Thinking is the First Step of Writing

Capaian Lain

“I am kinda short on cash right now,” kata saya sambil nyengir pada Mbak Kasir.

Pagi ini saya salah melihat promo. Saya kira 4 dollar untuk satu ayam utuh ternyata itu adalah harga per-kilo. Sayangnya, hal itu saya ketahui saat sudah berada di kasir. Mengingat saya hanya punya uang tunai 20 dolar untuk bertahan 1 minggu, maka saya pun meminta maaf dan membatalkan pembelian tersebut. Entah apa yang dipikirkan orang yang mengantri di belakang saya.

Di perjalanan pulang, pikiran saya tidak bisa lepas dari apa yang terjadi di depan kasir. Sebenernya saya bisa saja tidak membatalkan pembelian ayam tersebut. Namun saya sedang dalam misi penghematan untuk membiayai kedatangan orang tua saya pada hari wisuda nanti. Kenapa saya harus berhemat sedemikian rupa? Saya ingin memberikan liburan yang pantas kerena semenjak saya kecil, bapak dan ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Saya pun terpikir, berapa banyak penghematan yang harus bapak dan ibu lakukan untuk membiayai liburan, pendidikan dan mainan-mainan anak-anaknya? Dari sudut pandang anak, kadang yang kita tahu hanya, “hore, besok ke pantai” atau “asik, dapat hape baru” (hape baru, mainan anak jaman sekarang.). Kita tidak pernah tahu atau diijinkan untuk tau apa yang harus bapak dan ibu lakukan demi melihat kesenangan itu. Mungkin mereka hanya bisa tersenyum simpul saat rekan kerjanya datang ke kantor dengan jam tangan baru atau tas tangan baru atau cerita tentang tempat spa di pusat kota. Mungkin juga mereka sempat berada dalam pilihan beli take-away fried chicken atau jalan-jalan sore dengan teman-teman sepulang kantor.

Saya yakin banyak cerita lainnya. Namun, intinya adalah waktu kita merasa sudah cukup mapan secara finansial, mungkin sudah saatnya pula kita mengisi capaian hidup yang tidak diperuntukan untuk diri kita sendri. Untuk saya, poin terbaik untuk memulainya adalah kepada bapak dan ibu.

 

Salam,

Sasa

98 hari lagi pulang.

Iklan

Salahkah Babi?

“Apa salah babi?”

Pembicaraan saya dan seorang teman di pagi Lebaran beberapa waktu lalu sedikit diluar tema ketupat dan opor. Tema ini diawali dengan saya yang mengungkapkan ketidaknyamanan saya bahwa banyak rekan yang masih tidak suka menggunakan kata “babi” walaupun dalam sebuah pembicaraan normal. Misal saat membahas kuliner mereka akan bilang mengganti babi dengan “b2”, “bab”, atau “piggy”, atau pun menyensornya.

Saya pun teringat beberapa tahun lalu ketika KKN disebuah daerah, kami sedang membahas PR Bahasa Inggris dan membahas hewan ternak, lalu adik-adik yang sedang belajar merasa sungkan mentranslasikan kata “Pig”. Mereka hanya mengikik malu-malu. Entah kenapa.

Jujur saya bingung. Kembali kesebuah pertanyaan yang saya ungkapkan ke teman saya. “Apa salah babi?” Memang di Indonesia yang mayoritas beragama Islam konsumsi babi diharamkan. Katanya babi itu hewan yang kotor dan dagingnya terkontaminasi cacing pita. Ok, saya tidak ingin men-challenge statement itu. Tapi, lagi, saya bertanya,” apa salah babi?”. Apakah karena dia tidak boleh dikonsumsi dan haram lantas segala macam tentang hewan itu juga haram? Bahkan untuk disebut? Kasihannya…

Menurut logika saya, terlepas dari agama yang saya anut, saya percaya tidak ada satupun ciptaan Tuhan yang sia-sia. Semua punya guna. Semua punya peran. Saya percaya Yang Maha Kuasa memberi tempat bagi semua mahkluknya dan dunia ciptaan-Nya adalah sebuah rangkaian kesempurnaan. Bahkan hewan bernama babi pun tidak mungkin ada tanpa punya guna dan peran dalam keberadaannya.

Saya melihat kesungkanan menyebut babi walaupun dalam pembicaraan yang sama sekali netral sepenuhnya adalah bentukan lingkungan sekitar. Seperti juga beberapa kata yang tidak bisa diucapkan karena dipandang tabu. Jadi, rasanya yang bisa disesuaikan disini adalah perspektifnya. Selama yang kita bicarakan tidak mengandung makna negatif mengapa penggunaan kata yang sama sekali normal harus dipandang negatif.

 

Salam,

 

Sasa

Bukan fans Piglet dari kartun Winny the Pooh

“Have you ever heard a saying ‘Curiosity killed the cat’?”

Hampir setahun setelah saya bertemu dengan seorang ibu mengatakan pertanyaan itu.

Kami bertemu Ramadhan tahun lalu. Di sebuah bus stop di kawasan suburb Canberra. Pagi itu hari pertama Ramadhan, dan obrolan kami dibuka dengan chit-chat basa-basi. Ketika saya mengatakan sedang berpuasa dan adalah seorang muslim, ia mulai tertarik. Namun bis kami tiba beberapa saat sebelumnya dan pembicaraan kami terpotong.

Ketika bis kami tiba di City Interchange, kami ternyata turun di tempat yang sama dan beliau mengeluarkan pertanyaan di atas. Rupanya cuplikan pembicaraan kami sebelumnya telah menarik rasa penasarannya.

Ia pun berujar jujur ingin mengeluarkan beberapa pertanyaan mengenai keberagamaan saya, ada ketakutan di kalimatnya, seakan takut saya akan tersinggung. Akan tetapi saya bisa jamin, sayalah yang justru lebih ketakutan, “Pegimana inih?! Pegimanaahhh??!”. Saat itu, tentu saya memasang tampang kece dan berkata akan dengan senang hati menjawab pertanyaan beliau.

Beberapa yang menarik perhatian (yang masih saya ingat) adalah “You are the first muslim that I know who are not wearing veil, why are you not wearing it?”, “So your parent does not force marriage against you?”, dan “You can marry a guy of your choice?”

Pembicaraan itu berlangsung selama lima sampai sepuluh menit. Tapi sampai hari ini saya masih mengingat kegentaran yang saya rasakan dan betapa saya berusaha mengawali setiap jawaban dengan “In my view” dan “Personally” untuk memastikan saya tidak memberi gambaran yang menggeneralisir. Walaupun begitu, itu momen kecil yang secara luar biasa membuka pikiran dan menuntut saya belajar lebih banyak lagi. Satu hal terpenting dari momen itu adalah, saya salut dengan beliau yang jujur mengungkapkan keinginannya untuk tahu lebih dan mencari jawaban atas keingintahuannya. Kesalutan ini membawa pelajaran yang lebih besar untuk saya kembali memaknai sebuah peribahasa Indonesia yang sudah lama saya lupakan “Malu bertanya sesat di jalan”

Salam,

Sasa

Masih struggling buat bangun Subuh tiap pagi.

Food Love

“I grow my own food”

Kata ibu instruktur  gardening beberapa bulan lalu. Mata saya berbinar. Kepikiran. Pengen. Iri.

Sudah lama saya punya keinginan itu. Mungkin gak akan sekeren punya hasil kebun yang bisa mensupport kebutuhan makan sehari-hari, tapi setidaknya dimulai dari bumbu dapur macam cabe, tomat, bawang-bawangan, jahe, serta kawan-kawannya. Maka sepulang dari workshop itu saya pun memulai kebun kecil saya di pinggir jendela apartemen.  Hasil “panen” dari kebun kecil itu dipakai untuk membuat indomie rebus telur dengan potongan cabe hijau, lemon tea mint dan steak dengan mint butter. Walaupun akan berlebihan untuk bilang makanan/minuman itu terasa lebih enak, tapi ada antusiasme tersendiri saat memasak dan penghargaan yang sulit dijelaskan waktu saya makan/minum. Lagi, cuma kepikiran aja, kalau baru bumbu nya aja yang dari hasil kebun sendiri sudah terasa begitu spesial, bagaimana dengan makanan sehari-hari di ibu. As she said, “I grow my own food”, then her food must be ultra special.

Saya pun gak bisa menahan diri membayangkan dia dengan hati-hati menakar apa aja yang dia perlukan, karena tentunya dia gak akan serakah mengambil semua hasil panennya untuk sekali makan. Kemudian dia akan memasaknya dengan penuh perhitungan karena bagaimanapun juga tanaman-tanaman itu adalah hasil jerih payahnya. Terakhir, mungkin dia akan memberikan penghormatan yang sangat tinggi untuk makanan yang ada di mejanya. 

Mungkin itu yang kita butuhkan untuk mengatasi masalah food waste yang sudah begitu parahnya. Gak perlu lah mengkutip statistik menurut lembaga ini dan itu, cukup sekedar menengok ke pasar (swalayan maupun tradisional) berapa banyak bahan makanan yang rusak, lalu dibuang? Bahkan mungkin cukup melihat ke kulkas sendiri, berapa banyak makanan yang mendekati kadaluarsa? Mungkin si bahan makanan itu adalah sisa-sisa yang belum sempat termasak atau dibeli karena diskon “mendekati best before”? Intinya, si bahan makanan itu akan terbuang sia-sia dan dengan mudahnya, “ah udah rusak” batin kita. Kita tidak lagi merasa sayang untuk membuang bahan-bahan tersebut.

Posting ini bukannya menyarankan tetap memakai bahan-bahan makanan yang sudah rusak ataupun sudah kadaluarsa. Tapi saya yang kepikiran, mungkin jika kita belajar untuk menanam sendiri apa yang kita makan, penghormatan kita akan makanan akan lebih besar. Kita mungkin bisa menahan diri untuk membeli makanan yang gak bisa kita habiskan, apalagi membuang makanan yang sudah ada di piring kita. Because we love our food, and we respect it.

 

Salam,

 

 

Sasa

Masih suka buang makanan 😦

 

Pulang

“Gak usah pulang, Sa, costly”

 

Batin saya berseru gembira setelah membaca pernyataan teman saya tersebut. Karena satu dan lain hal, saya memang belum siap mental untuk pulang. Pulang bermakna lebih dalam ketika radius kita dari rumah bukan lagi satu dua kota. Ada level lebih tinggi untuk memaknai “pulang”. Jauh lebih kompleks dari ketika saya bersekolah di Jogja.

 

Apa saya tidak rindu orang tua saya? Jujur, gak ya? Semoga tidak terdengar kayak anak durhakan kalau saya bilang “emmm, enggak tuh”. Untuk orang yang menitikberatkan komunikasi, memasang dan mengajari skype pada bapak dan ibu terbayar sempurna. Bahkan sepertinya saya tidak pernah selancar ini berkomunikasi dengan mereka. Lucu ya, betapa kehidupan satu atap tidak menjamin kerukunan manusia di dalamnya?

 

Ok, jadi saya belum menemukan jawaban. Untuk apa pulang? Ketemu pacar? Yak, saya minta amin nya sodara-sodara. Aaaaminnn. Ah sudah lah, posting ini bukan ditujukan untuk curhat tentang hal-hal yang saya sendiri masih pertanyakan. Mari kemudian bertanya lagi: untuk apa pulang?

 

Saya tidak tahu siapa yang menyanyikan aslinya, tapi Mcfly berkata “home is where the heart is, where we started, where we belong…. Jeng jeng jeng jeng” Ehm, pardon the sound fx. Jadi pertanyaannya, where’s your heart? My heart grow in a place that grow on me. Nah lho… Piye? Piye? Mungkin penjelasannya gini: “rumah” itu bukan sekedar house, tapi home. Perasaan nyaman ada di dalamnya. Disaat setiap pagi hari kita harus bergelut dan berkata “lima menit lagi deh” lalu kembali tidur untuk setengah jam kemudian. Oh, dan perasaan bisa memakai toilet dengan nyaman.

 

Maka, Canberra pun rumah saya? Mungkin. Satu hal yang pasti sebuah rumah akan memanggil kita untuk kembali. Seperti juga Bekasi dan Jogja. Mungkin Canberra akan memanggil saya untuk pulang. Jadi, untuk apa pulang? Jawabnya untuk mengunjungi rumah saya yang lain. Untuk merasakan mendengar lagi ayam sialan yang berkokok jam 3 pagi. Atau pun mendengar azan maghrib yang menandai sebuah akhir hari. Hal-hal tersebut ada di “rumah” saya yang lain. Untuk itu saya akan pulang.

 

Salam,

 

Sasa

Sudah gak lagi galau akademik, cuma agak homesick