Thinking is the First Step of Writing

Archive for Agustus, 2012

Menjadi Anak-Anak

“Bagi dong!” ujar seorang bocah pada temannya yang asik bermain perosotan dengan sebuah karton bekas.

Ini sebuah gambaran ibukota. Anak-anak berada dijalanan bersama wanita-wanita, yang entah ibu mereka atau bukan, untuk mencari rupiah dengan cara mengamen, menjual permen, membersihkan kaca mobil, atau sekedar menadahkan tangan. Akan tetapi bukan itu yang membuat saya tertegun tadi malam saat menunggu bus pulang di dekat jembatan penyebrangan semanggi. Adalah kedua bocah itu yang asik bermain dengan kardus untuk turun dari landasan miring di tangga turun jembatan itu. Begitu gembira. Begitu hidup. Tetap menjadi anak-anakwalaupun dengan kegiatan pencarian nafkah yang belum seharusnya mereka lakukan. Siapa sangka sebuah karton bekas yang kemudian dibagi dua (yang dilakukan dengan agak terpaksa oleh si empunya karton) bisa menjadi hiburan yang begitu mengasikan.

Pikiran saya melayang pada trend yang makin banyak saya ihat di warung kopi elit. Saat orangtuanya bercengkrama sambil menyeruput latte panas, anaknya asik bermain tablet sambil menyedot frappuchino dengan whipcream yang melimpah. Tanpa mengurangi rasa hormat pada orang tua yang mampu membelikan tablet itu untuk anaknya atau pun, saya rasa trend ini benar-benar suatu hal yang mengganggu. Saya juga tumbuh bermain game SNES di masa kecil dan saya tidak akan mengecam orang tua yang membiarkan anaknya bermain tablet itu. Akan tetapi, bukankah ada pilihan untuk tidak membawa anak-anak itu ke dunia orang dewasa terlalu awal? Saat mereka membawa anak-anak itu dalam ranah pergaulan orang dewasa dan menyediakan hiburan berupa sekotak simulasi audio visual agaknya itu cukup menyedihkan karena hak mereka sebagai anak-anak hanya dipenuhi oleh sekotak motherboard berlayar datar.

Membandingkan anak-anak itu dengan anak-anak yang bermain karton tadi malam, saya menjadi bertanya-tanya. Saya belum menjadi orang tua dan belum mempertimbangkan bagaimana nanti saya menjaga anak-anak saya. Mungkin para orang tua yang membawa anaknya ke kedai kopi itu sebenarnya ingin memastikan anaknya berada di dekatnya, terjaga, tanpa kemungkinan terkena benda tajam jika bermain sendiri di rumah. Namun saya yang belum menjadi orang tua ini juga mempertanyakan mengapa para orang tua itu bisa melihat anaknya terduduk memandangi hiburan digital ditangan mereka, dengan wajah yang asik sendiri menimpuki burung ke arah babi atau melumat serangga. Apakah mereka tidak merindukan anak-anak mereka tertawa lepas sambil berlarian? Ribut memang tapi seperti sebuah lagu di film kartun yang saya tonton “kids just being kids”, mereka harusnya mempunyai pilihan untuk menjadi anak-anak dengan kegiatan yang berbau anak-anak. Bukan tidak mungkin mereka juga akan menikmati bermain perosotan darurat seperti yang dilakukan dua anak tadi malam.

Salam,

Khanisa

Parent Wannabe

Di Balik Sebuah Agenda

Banyak orang yang merasa sebuah agenda tidak penting untuk direncanakan dengan sebegitu detail, hanya sebuah kumpul-kumpul, mereka pikir. Lalu tanpa pikir panjang sebuah undangan pun dilempar. Karena sedikit yang ikut orang yang melempar agenda kesal, teman-temannya tidak kompak, ia berasumsi. Padahal jika dirunut ini murni karena lemparan agenda tersebut yang tidak terencana. Bukankah semua orang mempunyai agenda lain dan bisa jadi undangannya yang baru datang beberapa jam sebelumnya tidak cukup penting untuk membuat orang-orang tersebut membatalkan rencananya yang terdahulu. Atau bagaimana jika agendanya itu perlu mengorbankan beberapa hal yang dibutuhkan, tidak akan yang mengirim undangan seminar di jakarta ke orang yang berada di kuala lumpur dengan jeda satu hari dengan hari H bukan?

Di kesempatan lain banyak pelempar agendanya sendiri yang tidak komit akan rencananya. Toh, hanya kumpul-kumpul, lagi-lagi menggunakan cara pikir bebal tersebut. Jadi, setelah beberapa orang bilang setuju untuk mengikuti agenda tersebut. Secara semena-mena agenda itu diubah tanpa memberikan orang-orang yang akan datang cukup waktu untuk menyesuaikan diri. Mari kita mencontohkannya pada sebuah agenda kumpul-kumpul, karena akan bodoh untuk melakukan keteledoran ini pada sebuah seminar resmi. Ketika sebuah pesan singkat masuk dan mengatakan agenda kumpul-kumpul itu akan pindah tempat ke ujung kota satu ke ujung kota lainnya setengah jam sebelum pukul agenda itu diusulkan. Entah apa yang akan ada di kepala orang yang membaca sms itu, antara bantingan selular atau helaan nafas dan sebuah keputusan untuk kembali ke rumah.

Beberapa orang tidak sadar berapa kuatnya dampak sebuah  pengelolaan agenda acara yang buruk. Karena saat kita mengundang seseorang, dari mulai dia menjawab ”baik, saya datang”, maka otomatis kita mempunyai hutang pada orang tesebut. Kita telah mengambil satu slot dari waktunya yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk hal yang lain. Ini hal terakhir yang mungkin banyak tidak disadari, pembatalan. jika perusahaan bisa menggunakan sistem ”two-weeks notice” pada karyawan yang ingin berhenti, harusnya perancang agenda membuat sistem yang sama, apabila acara itu dibatalkan, cepat-cepatlah memberitahukan pihak yang diundang. Karena mungkin orang yang diundang mempunyai agenda lain yang bisa jadi dibatalkan untuk memenuhi undangan tersebut.

Salam,

Sasa

Bukber Orginizer

Drama Adaptasi

“Kan ada kursi prioritas, mas. Harusnya Kursi itu dikosongin dari awal”

Begitu kata seorang mbak yang diminta memberikan kursi buat ibu hamil yang baru naik Transjakarta pagi tadi. Si Mbak dengan sengitnya berargumen, entah agar dia tetap bisa nyaman duduk atau entah karena dia benar-benar ingin menegakan peraturan berlabel “KURSI PRIORITAS”. Si Pramugari (atau Pramugara ya kalau laki-laki?) hanya bisa tersenyum tabah dan meminta penumpang di sebelah Si Mbak Sengit untuk merelakan kursinya, kali ini Si Ibu Hamil mendapatkan kursi.

Kejadian pagi ini sempat menarik perhatian beberapa penumpang yang mendengar, beberapa mungkin membatin, “Galak amat mbaknya” atau “Yah udah sih, kalo gak mau”. Jujur saya juga termasuk yang bermuka nyinyir dan berpikir seperti orang-orang kebanyakan. Akan tetapi, mungkin Si Mbak Sengit tadi memang ingin benar-benar menegakan peraturan, dengan menyuruh Si Ibu Hamil berjalan 7 kursi menuju kursi prioritas menembus Trans Jakarta yang penuh. Toh sepertinya tidak masalah dan tidak berpotensi bahaya untuk berjalan 7 kursi saja ke tempat yang seharusnya dia duduki sambil bilang permisi sana-sini dan pegangan seandainya ada bis tidak berjalan mulus atau bahkan mengerem mendadak. Hal terpenting adalah menegakan peraturan, bukan? Iya, saya tahu tadi itu nyiyir.

Sebenarnya yang dilakukan mbaknya tidak salah juga sih, mengingatkan Mas Pramugari (atau Pramugara) untuk mengosongkan kursi prioritas, mana tahu besok-besok kejadian ini terulang, tapi sikapnya yang arogan dan memukul rata keadaan membuat sarannya terdengar seperti : “Kenapa gue yang harus pindah deh?”.  Jika Si Mbak Sengit ingin melakukan pengembalian keadaan pada sistem yang sudah dirancang, seharusnya beliau tetap melihat keadaan yang ada. Dalam hal ini agaknya tidak rasional membuat Si Ibu Hamil berjalan menembus bus yang penuh.

Bukannya saya setuju pada sebuah istilah nyeleh “Peraturan dibuat untuk dilanggar”, tapi menurut saya peraturan harus adaptif. Kasus Kursi Prioritas: Mbak Sengit Vs Mas Pramugari mengingatkan saya pada kasus Penutupan Terminal Bayangan Jatibening oleh Jasa Marga minggu lalu. Adanya terminal bayangan yang “liar” dianggap sebagai sebuah pelanggaran yang harus ditegakan. Namun, ongkos penegakan itu tidak murah: kemacetan sekitar 6 jam, dibakarnya 2 mobil dan dirugikannya banyak pihak yang mengejar deadline di kantor maupun kebutuhan bertemu toilet terdekat. Terminal Banyangan Jatibening yang menurut beberapa catatan sudah berjalan 10 tahun itu dibiarkan tumbuh sampai banyak pihak merasakan manfaat dari Terminal Bayangan Jatibening tersebut. Diantaranya adalah keuntungan ekonomis bagi para tukang ojek dan penghematan waktu bagi para penglaju dari Bekasi ke Jakarta.

Kembali ke kasus Mbak Sengit namun secara pribadi saya berspekulasi, bagaimana juga jika Si Mbak Sengit berada di depan kursi prioritas yang kosong dan tidak boleh diisi karena peraturan yang ditegakan begitu tidak adaptif dengan keadaan? Adaptasi adalah kata kuncinya disini, sama juga dengan kursi prioritas keberadaan Terminal Bayangan Jatibening yang sudah “terlanjur” ada seharusnya tidak dibabat dengan cara cepat, namun harus dipelajari kembali jalan bijak apa yang harus diambil. Cara Jasa Marga yang akhirnya membuka kembali Terminal bayangan tersebut dengan membuat jalur khusus merupakan jalan bijak tersebut. Karena saat keadaan sudah tidak mungkin diperbaiki , bukan berarti segalanya harus diluruskan ke arah yang dirasa “benar”, namun dimodifikasi agar “terasa” benar.

It’s not breaking the rule, it’s bending the rule.

 

Salam,

 

Khanisa

Berhenti di Jatibening

Halaman Baru Lainnya

Jika isi pikiran kita bisa dibukukan entah berapa banyak halaman yang tercetak setiap hari. Mungkin kalimat pertama di halaman 1 akan berbunyi “Hoam, 5 menit lagi…”. Setelah beberapa kali enter yang  berikutnya akan tertulis “Aduh, jam 6! Telat! Ngantor!”. Kalimat-kalimat lain akan tercetak otomatis ketika kita merespon jalanan yang macet, lift yang rusak, dan sedikit umpatan ketika tahu charger laptop tertinggal.

Andai menulis benar-benar segampang itu, mungkin tidak akan ada istilah writer’s block. ‘Kan tinggal mikir tulisannya sudah jadi? Sayangnya, menulis tidak segampang itu. Saya pribadi berpikir sebuah tulisan yang baik harusnya memiliki nilai informasi untuk pembaca. Kalau sekedar ingin memantau curhatan, sudah ada mikro blog 140 karakter yang bisa tengok saat berdiri di bus kota.

Namun siapa saya untuk melarang seseorang menulis curhatan tidak informatif di blog? Semua orang punya topik masing-masing untuk ditulis. Kalau saya, sepertinya akan menggunakan blog ini untuk sarana belajar untuk membuat tulisan yang lebih bermutu dan tidak begitu kasual.

Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman yang membaca.
Salam,

Khanisa

Belum 24 Tahun