Thinking is the First Step of Writing

Drama Adaptasi

“Kan ada kursi prioritas, mas. Harusnya Kursi itu dikosongin dari awal”

Begitu kata seorang mbak yang diminta memberikan kursi buat ibu hamil yang baru naik Transjakarta pagi tadi. Si Mbak dengan sengitnya berargumen, entah agar dia tetap bisa nyaman duduk atau entah karena dia benar-benar ingin menegakan peraturan berlabel “KURSI PRIORITAS”. Si Pramugari (atau Pramugara ya kalau laki-laki?) hanya bisa tersenyum tabah dan meminta penumpang di sebelah Si Mbak Sengit untuk merelakan kursinya, kali ini Si Ibu Hamil mendapatkan kursi.

Kejadian pagi ini sempat menarik perhatian beberapa penumpang yang mendengar, beberapa mungkin membatin, “Galak amat mbaknya” atau “Yah udah sih, kalo gak mau”. Jujur saya juga termasuk yang bermuka nyinyir dan berpikir seperti orang-orang kebanyakan. Akan tetapi, mungkin Si Mbak Sengit tadi memang ingin benar-benar menegakan peraturan, dengan menyuruh Si Ibu Hamil berjalan 7 kursi menuju kursi prioritas menembus Trans Jakarta yang penuh. Toh sepertinya tidak masalah dan tidak berpotensi bahaya untuk berjalan 7 kursi saja ke tempat yang seharusnya dia duduki sambil bilang permisi sana-sini dan pegangan seandainya ada bis tidak berjalan mulus atau bahkan mengerem mendadak. Hal terpenting adalah menegakan peraturan, bukan? Iya, saya tahu tadi itu nyiyir.

Sebenarnya yang dilakukan mbaknya tidak salah juga sih, mengingatkan Mas Pramugari (atau Pramugara) untuk mengosongkan kursi prioritas, mana tahu besok-besok kejadian ini terulang, tapi sikapnya yang arogan dan memukul rata keadaan membuat sarannya terdengar seperti : “Kenapa gue yang harus pindah deh?”.  Jika Si Mbak Sengit ingin melakukan pengembalian keadaan pada sistem yang sudah dirancang, seharusnya beliau tetap melihat keadaan yang ada. Dalam hal ini agaknya tidak rasional membuat Si Ibu Hamil berjalan menembus bus yang penuh.

Bukannya saya setuju pada sebuah istilah nyeleh “Peraturan dibuat untuk dilanggar”, tapi menurut saya peraturan harus adaptif. Kasus Kursi Prioritas: Mbak Sengit Vs Mas Pramugari mengingatkan saya pada kasus Penutupan Terminal Bayangan Jatibening oleh Jasa Marga minggu lalu. Adanya terminal bayangan yang “liar” dianggap sebagai sebuah pelanggaran yang harus ditegakan. Namun, ongkos penegakan itu tidak murah: kemacetan sekitar 6 jam, dibakarnya 2 mobil dan dirugikannya banyak pihak yang mengejar deadline di kantor maupun kebutuhan bertemu toilet terdekat. Terminal Banyangan Jatibening yang menurut beberapa catatan sudah berjalan 10 tahun itu dibiarkan tumbuh sampai banyak pihak merasakan manfaat dari Terminal Bayangan Jatibening tersebut. Diantaranya adalah keuntungan ekonomis bagi para tukang ojek dan penghematan waktu bagi para penglaju dari Bekasi ke Jakarta.

Kembali ke kasus Mbak Sengit namun secara pribadi saya berspekulasi, bagaimana juga jika Si Mbak Sengit berada di depan kursi prioritas yang kosong dan tidak boleh diisi karena peraturan yang ditegakan begitu tidak adaptif dengan keadaan? Adaptasi adalah kata kuncinya disini, sama juga dengan kursi prioritas keberadaan Terminal Bayangan Jatibening yang sudah “terlanjur” ada seharusnya tidak dibabat dengan cara cepat, namun harus dipelajari kembali jalan bijak apa yang harus diambil. Cara Jasa Marga yang akhirnya membuka kembali Terminal bayangan tersebut dengan membuat jalur khusus merupakan jalan bijak tersebut. Karena saat keadaan sudah tidak mungkin diperbaiki , bukan berarti segalanya harus diluruskan ke arah yang dirasa “benar”, namun dimodifikasi agar “terasa” benar.

It’s not breaking the rule, it’s bending the rule.

 

Salam,

 

Khanisa

Berhenti di Jatibening

Iklan

Comments on: "Drama Adaptasi" (1)

  1. Si embaknya pasti belum pernah ngerasain rasanya hamil itu kayak gimana, jadi dia bisa seenak jidat nyuruh mbaknya jalan dihimpit2 orang2 gitu. hadeh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: