Thinking is the First Step of Writing

Menjadi Anak-Anak

“Bagi dong!” ujar seorang bocah pada temannya yang asik bermain perosotan dengan sebuah karton bekas.

Ini sebuah gambaran ibukota. Anak-anak berada dijalanan bersama wanita-wanita, yang entah ibu mereka atau bukan, untuk mencari rupiah dengan cara mengamen, menjual permen, membersihkan kaca mobil, atau sekedar menadahkan tangan. Akan tetapi bukan itu yang membuat saya tertegun tadi malam saat menunggu bus pulang di dekat jembatan penyebrangan semanggi. Adalah kedua bocah itu yang asik bermain dengan kardus untuk turun dari landasan miring di tangga turun jembatan itu. Begitu gembira. Begitu hidup. Tetap menjadi anak-anakwalaupun dengan kegiatan pencarian nafkah yang belum seharusnya mereka lakukan. Siapa sangka sebuah karton bekas yang kemudian dibagi dua (yang dilakukan dengan agak terpaksa oleh si empunya karton) bisa menjadi hiburan yang begitu mengasikan.

Pikiran saya melayang pada trend yang makin banyak saya ihat di warung kopi elit. Saat orangtuanya bercengkrama sambil menyeruput latte panas, anaknya asik bermain tablet sambil menyedot frappuchino dengan whipcream yang melimpah. Tanpa mengurangi rasa hormat pada orang tua yang mampu membelikan tablet itu untuk anaknya atau pun, saya rasa trend ini benar-benar suatu hal yang mengganggu. Saya juga tumbuh bermain game SNES di masa kecil dan saya tidak akan mengecam orang tua yang membiarkan anaknya bermain tablet itu. Akan tetapi, bukankah ada pilihan untuk tidak membawa anak-anak itu ke dunia orang dewasa terlalu awal? Saat mereka membawa anak-anak itu dalam ranah pergaulan orang dewasa dan menyediakan hiburan berupa sekotak simulasi audio visual agaknya itu cukup menyedihkan karena hak mereka sebagai anak-anak hanya dipenuhi oleh sekotak motherboard berlayar datar.

Membandingkan anak-anak itu dengan anak-anak yang bermain karton tadi malam, saya menjadi bertanya-tanya. Saya belum menjadi orang tua dan belum mempertimbangkan bagaimana nanti saya menjaga anak-anak saya. Mungkin para orang tua yang membawa anaknya ke kedai kopi itu sebenarnya ingin memastikan anaknya berada di dekatnya, terjaga, tanpa kemungkinan terkena benda tajam jika bermain sendiri di rumah. Namun saya yang belum menjadi orang tua ini juga mempertanyakan mengapa para orang tua itu bisa melihat anaknya terduduk memandangi hiburan digital ditangan mereka, dengan wajah yang asik sendiri menimpuki burung ke arah babi atau melumat serangga. Apakah mereka tidak merindukan anak-anak mereka tertawa lepas sambil berlarian? Ribut memang tapi seperti sebuah lagu di film kartun yang saya tonton “kids just being kids”, mereka harusnya mempunyai pilihan untuk menjadi anak-anak dengan kegiatan yang berbau anak-anak. Bukan tidak mungkin mereka juga akan menikmati bermain perosotan darurat seperti yang dilakukan dua anak tadi malam.

Salam,

Khanisa

Parent Wannabe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: