Thinking is the First Step of Writing

Archive for September, 2012

Menjadi Warga Jakarta Baru

Berdasar quick count lima lembaga survei yang dikutip Kompas hari ini (hal 15), pasangan Jokowi-Basuki dipastikan akan menduduki kursi DKI 1. Keriuhan kemenangan pun terdengar dari berbagai penjuru, berbaju kotak-kotak maupun tidak. Foke pun dikabarkan telah menelpon Jokowi untuk mengucap selamat.  Jika semua berlangsung lancar 7 Oktober 2012, jakarta akan mempunya gubernur dan wakil gubernur yang menjanjikan Jakarta baru.

 

Saya tidak akan banyak bicara tentang peta politik pilkada kemarin atau pertarungan partai dibelakangnya. Saya lebih tertarik dengan slogan Jakarta Baru dan 5 misi jakarta baru yang salah satunya sudah pasti membutuhkan warga kota jakarta untuk turut berpartisipasi. Megutip dari website Jakarta baru,  misi tersebut adalah “Membangun budaya masyarakat perkotaan yang toleran, tetapi juga sekaligus memiliki kesadaran dalam memelihara kota”. (http://jakartabaru.co/home/visimisi)

 

“Masyarakat kota yang toleran” dan “kesadaran memelihara kota” sungguh hal yang indah jika bisa benar-benar terwujud di Jakarta, namun berita besarnya ini bukan PR untuk pasangan terpilih, ini PR untuk warga kota yang sehari-hari tidak berhenti bercuap-cuap mengenai panas, riweh, macet dan jahatnya Jakarta. Bahkan untuk mewujudkan himbauan “Jangan buang sampah sembarangan” di banyak tempat ini sulit dilaksanakan.

 

Kasihan kedua bapak cagub dan cawagub apabila kegagalan (*knock on woods*) mengelola masyarakat toleran dan sadar untuk memelihara kota dilemparkan sepenuhnya kepada mereka. Jikapun benar mereka seperti yang dikabarkan dua figur jujur, berani, idealis, dan ingin membawa perubahan. Maka tidak akan ada perubahan yang terjadi jika masyarakatnya tidak mau berubah. Masih akan tetap macet apabila laju pembelian dan pemakaian kendaraan pribadi terus naik tiap tahunnya. Masih akan banjir jika untuk membuang bungkus permen saja kita malas mencari tempat sampah. Masih akan korup kalau kita sendiri memilih untuk menggunakan calo kerena sudah berpikir negatif birokrasi sama sekali tidak akan berubah. Masih akan riweh kalau kita mengantri bus saja sulit untuk tertib. Masih akan panas jika kita lebih memilih mall dari pada ruang terbuka hijau. masih akan sama semuanya jika kita hanya bisa mengeluh, bukan berani maju dan memperbaiki.

 

Jadi, siap untuk menjadi warga baru di Jakarta yang Baru?

 

Salam,

 

Khanisa

Ingin Jakarta Baru

Tahta Kenyamanan

“Yak, belakang kosong ya, jangan dorong-dorongan, matanya jangan liat kursi, liat langkahnya nanti ada yang jatuh.”

Kalimat ini bagai bunyi “dor!” yang dinanti setiap pelari di garis start. Benar saja, bahkan sebelum pintu busway terbuka orang-orang sudah buru tempat duduk. Lagipula, siapa yang tidak mau duduk dengan tenang sampai tujuan dan tidak berdiri berdesak-desakan seperti pepes sembari mengarungi jalanan jakarta yang terkenal padatnya. Dan sepertinya menjadi prestasi tersendiri untuk beberapa orang jika ia bisa mendapat tempat duduk, sehingga dalam beberapa kasus memberikan tempat duduk adalah sebuah hal yang (jika bisa) dihindari. Entah pura-pura tidur ketika ada orang yang lebih tua, orang tua dengan anak kecil, atau ibu hamil masuk ke dalam bus yang padat.

Sebenarnya bukan hanya busway, kasus seperti ini juga banyak terjadi dalam banyak contoh lain. Intinya kenyamanan. Semua orang akan berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan posisi nyaman, dan saat mereka sudah mendapatkannya, siapa yang akan rela melepaskan? Jika kita membatasi topik pada kenyamanan dalam sebuah fasilitas umum, maka orang-orang akan berpikir dalam kerangka kesetaraan, beberapa perempuan akan berpikir dalam kerangkan “kan saya perempuan, harus diprioritaskan dong”, namun jika pemikiran-pemikiran ini diperjuangkan tanpa logika yang terjadi nampaknya adalah sebuah masyarakan dingin yang tidak lagi memikirkan nilai-nilai baik macam tenggang rasa yang dahulu sering kita dengar di saat masih berseragam putih-merah.

Namun setiap orang berhak mempertahankan argumennya dengan alasanya masing-masing, mungkin bagi beberapa orang kenyamanannya tidak akan terganggu apabila ada di depannya orang tua yang berpegang gemetaran mempertankan posisi berdiri mereka saat bus mengerem mendadak. Itu bisa jadi, karena jujur, kenyamanan itu addiktif, saya sendiri  yang baru mendapat kursi di shelter Kuningan Barat tadi berharap turun di Pluit saja saat mbak-mbak bersuara robotik memberitahu saya sudah berada di shelter Gatot Subroto LIPI.

Salam,

 

Khanisa

Pelanggan Koridor 9