Thinking is the First Step of Writing

Menjadi Warga Jakarta Baru

Berdasar quick count lima lembaga survei yang dikutip Kompas hari ini (hal 15), pasangan Jokowi-Basuki dipastikan akan menduduki kursi DKI 1. Keriuhan kemenangan pun terdengar dari berbagai penjuru, berbaju kotak-kotak maupun tidak. Foke pun dikabarkan telah menelpon Jokowi untuk mengucap selamat.  Jika semua berlangsung lancar 7 Oktober 2012, jakarta akan mempunya gubernur dan wakil gubernur yang menjanjikan Jakarta baru.

 

Saya tidak akan banyak bicara tentang peta politik pilkada kemarin atau pertarungan partai dibelakangnya. Saya lebih tertarik dengan slogan Jakarta Baru dan 5 misi jakarta baru yang salah satunya sudah pasti membutuhkan warga kota jakarta untuk turut berpartisipasi. Megutip dari website Jakarta baru,  misi tersebut adalah “Membangun budaya masyarakat perkotaan yang toleran, tetapi juga sekaligus memiliki kesadaran dalam memelihara kota”. (http://jakartabaru.co/home/visimisi)

 

“Masyarakat kota yang toleran” dan “kesadaran memelihara kota” sungguh hal yang indah jika bisa benar-benar terwujud di Jakarta, namun berita besarnya ini bukan PR untuk pasangan terpilih, ini PR untuk warga kota yang sehari-hari tidak berhenti bercuap-cuap mengenai panas, riweh, macet dan jahatnya Jakarta. Bahkan untuk mewujudkan himbauan “Jangan buang sampah sembarangan” di banyak tempat ini sulit dilaksanakan.

 

Kasihan kedua bapak cagub dan cawagub apabila kegagalan (*knock on woods*) mengelola masyarakat toleran dan sadar untuk memelihara kota dilemparkan sepenuhnya kepada mereka. Jikapun benar mereka seperti yang dikabarkan dua figur jujur, berani, idealis, dan ingin membawa perubahan. Maka tidak akan ada perubahan yang terjadi jika masyarakatnya tidak mau berubah. Masih akan tetap macet apabila laju pembelian dan pemakaian kendaraan pribadi terus naik tiap tahunnya. Masih akan banjir jika untuk membuang bungkus permen saja kita malas mencari tempat sampah. Masih akan korup kalau kita sendiri memilih untuk menggunakan calo kerena sudah berpikir negatif birokrasi sama sekali tidak akan berubah. Masih akan riweh kalau kita mengantri bus saja sulit untuk tertib. Masih akan panas jika kita lebih memilih mall dari pada ruang terbuka hijau. masih akan sama semuanya jika kita hanya bisa mengeluh, bukan berani maju dan memperbaiki.

 

Jadi, siap untuk menjadi warga baru di Jakarta yang Baru?

 

Salam,

 

Khanisa

Ingin Jakarta Baru

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: