Thinking is the First Step of Writing

Archive for Oktober, 2012

Malu Sebelum Mengeluh

“Saat kita semudah itu membuang bungkus permen sembangan maka kira tidak akan keberatan melakukan dosa-dosa besar lainnya.” (Saya, 4 Oktober 2012)

 

Saya meradang saat seorang bapak-bapak perlente bersopir dan bermobil bagus membuang bungkus permen dari jendela mobilnya. Puff. Bungkus permen itu tertiup angin. Mari kita lihat saat hujan mulai turun memenuhi got yang tersumbat sampah-sampah, mungkin diantaranya ada bungkus permen si bapak. Dan kita lihat nanti apabila si bapak mengeluh dengan kalimat “Yah banjir, Macet deh.”

 

Tentunya hal ini hanya contoh kecil dari betapa dangkalnya sikap mengeluh yang dibarengi rasa tidak tahu malu. Bayangkan bagaimana nanti saat rasa malu ini menghilang diri seseorang, dimulai dari membuang sampah, memotong antrian, berbicara pongah, bersikap kasar, lalu apakah seseorang akan malu kalau berbuat tindakan imoral lainnya? Yang lebih buruk lagi saat si tidak tahu malu ini mengeluh akan kumpulannya yang ia rasa rusak dan tidak bermoral. Sebuah lingkaran yang tidak akan habis. Dan berujung pada kerusakan masif.

 

Perbaikan bukan datang dari langit tanpa usaha dari masing-masing individu. Namun setahu saya banyak orang terbiasa menunjuk keburukan halaman tetangga ketika yang dibandingkan adalah keburukan halamannya (peribahasa “rumput tetangga lebih hijau” nampaknya hanya berlaku pada pembandingan hal-hal baik). Jika ada orang yang membuang sampah sembarangan, ia akan menunjuk jalanan penuh sampah hasil dari orang-orang lainnya yang sembarangan membuang sampah. Lalu sampai kapan kita ikut memuang sampah dan menjadi bagian dari orang-orang yang bersalah saat banjir datang?

 

Jangan menunggu untuk lebih baik, sekali lagi perubahan tidak datang dari langit. Apabila tidak kita hanya akan menjadi para pengeluh yang mati ditengelamkan oleh hal-hal yang dikeluhkannya.

 

Salam,

Khanisa

Tidak suka banjir