Thinking is the First Step of Writing

Peraturan dengan Hati

Beberapa posting lalu, saya pernah bercerita tentang seorang perempuan muda yang tidak mau memberikan tempat duduknya pada seorang ibu hamil. Alasannya, kursi yang ia duduki bukan “kursi prioritas”, hingga ia berhak mendudukinya dan petugas TransJakarta harusnya mengosongkan kursi prioritas untuk kasus seperti ini. Saya dan beberapa orang di bus hannya geleng-geleng iba pada mbaknya, tindakannya menegakan peraturan sungguh tidak melihat kondisi.

Hari pun berjalan lagi, jakarta mulai hujan, jakarta kebanjiran, dan AC di kantor menyembur dengan inhuman, saya dengan damai melupakan kasus kursi prioritas, sampai tadi pagi. Saya yang membawa dua tas besar diusir dari tempat saya bersandar oleh seorang bapak yang membawa map. Katanya, “Perempuan di depan mbak”, ia merujuk pada peraturan bahwa disitu bukan ladies area (btw, sadarkah anda bahwa di TransJakarta “ladies area” ditulis dengan “Ladie’s Area”?). Dalam dua detik saya mengalami dilema antara membela diri dengan alasan bawaan saya berat sehingga saya butuh tempat bersadar dan langsung pindah karena si bapak mengantongi legitimasi dari bapak lain yang bergumam setuju bahwa saya seharusnya di ladies area. “It’s not worth the stress”, saya membatin, lagipula hari masih panjang.

Hal ini membuat kepala saya merewind kasus mbak kursi prioritas yang berusaha menegakan rules dengan motif yang dipertanyakan. Penegakan rules atau memanfaatkan rules? Apakah mereka juga akan mempertahankan rules jika hal itu menghambat atau merugikan mereka? Saya tidak ingin berspekulasi dan menambah dosa saya dengan memberikan cap buruk bagi mereka, maybe they have a super awful day. Pelajaran yang saya ambil (lagi) adalah tentang bagaimana mengkondisikan rules, karena saya percaya bukan aturan yang harus mengatur manusia, tapi manusia yang harus memegang kendali atas aturan. Karena manusia bukan robot, ada kalanya rules harus disesuaikan atas dasar simpati dan empati. Pelaksanaan rules yang dengan dingin dan tidak pandang bulu menunjukan tingkat ketaatan yang menakutkan yang pada akhirnya akan membuat sikap apatis antar manusia. “Yang penting saya tidak melanggar”, sungguh menakutkan jika ini yang terjadi. Lalu bagi orang-orang yang memutuskan untuk menegakkan peraturan karena itu menyamankannya, Well, goodluck with that. Saya hanya bisa berharap mungkin kapan-kapan orang-orang tersebut perlu menilik kembali kondisi dan situasi saat itu, agar peraturan yang ingin ditegakan tidak kehilangan hati.

Salam,

Sasa

Pengguna TJ BNN-Gatsu

Iklan

Comments on: "Peraturan dengan Hati" (1)

  1. terkadang sebuah debate memang harus dilihat dari dua sisi–the good and the bad side, is it really good? or is it really that bad? tapi pun kalau kasusnya ibu hamil, eke bakalan juga ngasih seat ke sang ibu itu–karena terlepas dari moral apapun, suatu saat nanti eke dan mbaknya itu juga akan merasakan hamil–dan tentu pas hamil enggak pengen ngerasain yang dirasain sang ibu hamil itu. cheers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: