Thinking is the First Step of Writing

Archive for Juni, 2013

Jogja Jilid Dua

“I spent four years in Jogja for my bachelor degree, so coming here is like an upgrade of beeing away from home”

Begitu jawab saya ketika kepala Administrasi Studi bertanya bagaimana perasaan keluarga melepas saya pergi ke Canberra. Dan setelah dua minggu jawaban saya masih sama. Rindu rumah? Sepertinya saya lebih sibuk bersiasat mengenai dinginnya Canberra dari pada memikirkan kehangatan rumah. Ingin cepat pulang? Tidak juga. Jika bisa malah saya ingin berkelana sejauh-jauhnya memaksimalkan kesempatan dua tahun yang diberi Tuhan. Anak Durhaka! Enak saja. Ibu saya jelas-jelas merestui saya menyerap sebanyak-banyaknya apa yang bisa saya lakukan di negeri orang.

Ok, blog post ini mulai terasa seperti cerpen. Mungkin karena saya sedang ingin sekali menuliskan suatu plot dikepala saya, tapi itu akan saya simpan untuk nanti.

Kembali ke judul di atas, berminggu-minggu sebelum tanggal kepergian ke Canberra ibu saya sudah mewanti-wanti tentang berbagai hal, beliau beralasan bahwa kepergian saya kali ini bukan ketempat yang bisa dicapai dengan berkereta selama 8 jam seperti ke Jogja. Perlu paspor, perlu visa, perlu tiket yang harus ditebus dengan berbulan-bulan gaji saya. Namun di bawah semua kekhawatiran beliau, ada sebuah ketakutan dasar yang sudah terendus, masalah komunikasi. Seperti juga pasangan LDR, para orang tua memiliki obsesi tentang menjaga komunikasi dengan anaknya. Dan ketika anaknya tidak bisa dihubungi, jangan kaget ketika salah satu teman berkata, “Eh, tadi nyokap lo sms gue tuh, nyariin lo kayaknya.”

Maka untuk menanggulangi hal itu salah satu hal yang saya persiapkan adalah jaminan komunikasi dengan rumah, mengetahui sim card yang mungkin tidak akan berfungsi saat transit atau landing, tablet sudah setia menemani untuk sekedar kirim email berongkoskan wifi . Mengajari dan memasangkan skype di rumah  sebelum berangkat untuk memastikan paling tidak ibu saya bisa mengomel dan menyuruh saya mencari salon agar tampilan saya memasuki standart decent-nya. Dan segera setelah saya settle, mencari jalur komunikasi termurah agar kabar sehari-hari bisa lanar terkirim.

Karena Canberra bukan Jogja, maka segala ekstra effort untuk membuat koneksi menjadi dekat pun harus dicari. Mungkin itu kenapa saya tidur cukup nyenyak semalam sebelum terbang ke Australia.

Salam,

Sasa

Masih bergelut dengan winter Canberra.

Iklan