Thinking is the First Step of Writing

Archive for Juli, 2013

Can Be Rough

“Kalo dibandingkan Sydney, Melbourne dan Canberra itu kayak bandingin Jakarta, Bandung dan Wates”

Begitu iming-iming beberapa senior saat diskusi tentang pengalaman mereka yang pernah ke Australia. Saya ingat beberapa dari kami hanya tersenyum masam. Saya saat itu hanya bisa berpegang teguh pada keyakinan saya, “Tujuannya kan belajar, bagus dong kalo sepi.” Maka saya pun saat itu tidak gamang tentang keinginan saya ke Canberra. Jikapun ada keraguan bisa dipastikan saya lebih khawatir tentang apakah saya akan lulus EILTS atau tidak.

Setelah  beberapa kekhawatiran terlalui, saya pun melangkah yakin ke Canberra. Hello… Adventure! Dan saat pesawat berbaling-baling itu landing, pemandangan Canberra yang gloomy membuat saya harus literally bertanya-tanya “Hello… Adventure?”. Well, Canberra benar-benar terlihat sepi saat saya datang, mungkin karena saya datang saat public holiday dan semua orang lebih senang kemulan di samping heater.

Namun Canberra yang sepi, Canberra yang lifeless, Canberra yang membosankan bagi saya beberapa hal ini hanya jadi pikiran 15 menit pertama dari menjejakan kaki di Canberra, karena yang menjadi Setan besar bagi saya adalah Canberra yang sedang Winter. Mungkin karena ini pertama kali saya mengalami kondisi seperti ini, negara 4 musim dimana anginnya kering dan mataharinya hanya jadi pajangan yang sukur-sukur bisa mengeringkan cucian.

Sepertinya butuh waktu sampai 2 minggu hingga saya bisa berstrategi menghadapi udara yang membuat kulit pecah-pecah. Beruntungnya di Canberra tersedia pilihan air panas disetiap keran yang pernah saya temui disini. Dan memaksa diri untuk mandi ternyata efektif untuk mengusir dingin. Maaf Bumi, bukan maksud hati untuk buang-buang sumber daya, tapi percayalah saya mencoba mandi dengan air sehemat mungkin kok. Berkompromi dingin? Sip!

Kembali ke Canberra yang sepi, lifeless, dan membosankan. Hemm? Really. Karena sepi, lifeless dan membosankan adalah mindset orang-orang yang tidak bisa menciptakan teman imajinernya sendiri . Ok, itu terdengar salah. Kata teman imajiner saya seharusnya saya menulis “Karena sepi, lifeless dan membosankan adalah mindset orang-orang yang tidak mau mencari kesenangan sendiri.” Ok, ada bagian yang masih terasa salah. Ah, sudahlah.

Anyway, walaupun tidak seramai Sydney atau Melbourne. Canberra belum berarti pojok terpencil di balik barisan bukit, semua bisa ditemukan disini kok. Perihal makanan, percaya atau tidak, makanan-makanan pertama saya disini adalah nasi, sayur asem, sayur lodeh, sambel ulek, opor, empal dan berbagai makanan indonesia lainnya. Mencari pub dan nightlife, ada kok, at least dari luar sih saya liat, saya lebih tertarik masuk toko komik. Muehehe. Ada banyak hal-hal spesifik lainnya yang kalau dicari pasti bisa di dapat di Canberra.

Jadi setelah sebulan observasi saya, satu-satunya nama sebutan yang masih saya gunakan untuk menyebut kota ini adalah Can-Brrrr-a, sedangkan Can-be-rough? Itu akan tergantung seberapa banyak teman imajiner yang bisa menyarankan hal-hal menyenangkan pada kita. Ok, ini kalimat masih aja terasa salah.

Salam,

Sasa

Sedang merayakan sebulanan touch down di Canberra.