Thinking is the First Step of Writing

Archive for Desember, 2013

Pulang

“Gak usah pulang, Sa, costly”

 

Batin saya berseru gembira setelah membaca pernyataan teman saya tersebut. Karena satu dan lain hal, saya memang belum siap mental untuk pulang. Pulang bermakna lebih dalam ketika radius kita dari rumah bukan lagi satu dua kota. Ada level lebih tinggi untuk memaknai “pulang”. Jauh lebih kompleks dari ketika saya bersekolah di Jogja.

 

Apa saya tidak rindu orang tua saya? Jujur, gak ya? Semoga tidak terdengar kayak anak durhakan kalau saya bilang “emmm, enggak tuh”. Untuk orang yang menitikberatkan komunikasi, memasang dan mengajari skype pada bapak dan ibu terbayar sempurna. Bahkan sepertinya saya tidak pernah selancar ini berkomunikasi dengan mereka. Lucu ya, betapa kehidupan satu atap tidak menjamin kerukunan manusia di dalamnya?

 

Ok, jadi saya belum menemukan jawaban. Untuk apa pulang? Ketemu pacar? Yak, saya minta amin nya sodara-sodara. Aaaaminnn. Ah sudah lah, posting ini bukan ditujukan untuk curhat tentang hal-hal yang saya sendiri masih pertanyakan. Mari kemudian bertanya lagi: untuk apa pulang?

 

Saya tidak tahu siapa yang menyanyikan aslinya, tapi Mcfly berkata “home is where the heart is, where we started, where we belong…. Jeng jeng jeng jeng” Ehm, pardon the sound fx. Jadi pertanyaannya, where’s your heart? My heart grow in a place that grow on me. Nah lho… Piye? Piye? Mungkin penjelasannya gini: “rumah” itu bukan sekedar house, tapi home. Perasaan nyaman ada di dalamnya. Disaat setiap pagi hari kita harus bergelut dan berkata “lima menit lagi deh” lalu kembali tidur untuk setengah jam kemudian. Oh, dan perasaan bisa memakai toilet dengan nyaman.

 

Maka, Canberra pun rumah saya? Mungkin. Satu hal yang pasti sebuah rumah akan memanggil kita untuk kembali. Seperti juga Bekasi dan Jogja. Mungkin Canberra akan memanggil saya untuk pulang. Jadi, untuk apa pulang? Jawabnya untuk mengunjungi rumah saya yang lain. Untuk merasakan mendengar lagi ayam sialan yang berkokok jam 3 pagi. Atau pun mendengar azan maghrib yang menandai sebuah akhir hari. Hal-hal tersebut ada di “rumah” saya yang lain. Untuk itu saya akan pulang.

 

Salam,

 

Sasa

Sudah gak lagi galau akademik, cuma agak homesick

Iklan

Galau Akademik

“Jadi apa yang harus disiapkan soal perkuliahan disana, Sa?”

Itu salah satu pertanyaan dari seorang teman yang bulan januari ini akan menjejakkan kaki di Australia. Pertanyaan ini belum lama saya terima. Maka saya masih ingat jelas jawaban yang saya berikan “lebih baik dikosongkan pkirannya mas, biar menerima pelajarannya juga leluasa.” Jawaban ini tentunya tidak dapat diartikan dalam makna harfiah. Bukan, bukan soal bongkar isi kepala terus melempar otak untuk makanan zombie. Yang saya maksud adalah cara belajar dan materi-materi yang saya dapat disini jauh berbeda dari yang pernah saya pelajari sebelumnya. Kadang lebih dari sekedar update, kadang bertolak belakang sampai-sampai saya merasa yang selama ini saya pelajari benar-benar tidak ada artinya.

Humm, mungkin masih terbawa shock dengan hasil semester kemarin yang dapat dibilang kurang memuaskan. Kurang dua point dari point minimal yang harusnya saya raih. Stress? Yep. Tapi ada perasaan yang lebih parah yang katanya akan banyak dirasakan siswa di awal masa belajarnya. sebuah perasaan yang kalau disimpulkan kira-kira seperti ini “Gue bego banget apa ya?!”

Perasaan marah pada diri sendiri itu mungkin muncul karena saya gagal di mata kuliah utama dimana saya menulis tentang hal yang sudah saya pelajari selama dua tahun belakangan. Menurut feedback yang saya dapatkan, saya belum menguasai konsep dari materi yang saya tulis. Disanalah kemudian saya merenungkan kembali jawaban yang saya berikan pada teman saya tentang mengosongkan pikiran. Mungkin saya belum cukup mengosongkan pikiran untuk menerima konsep yang diberikan yang berimbas pada hasil yang kurang maksimal. Namun suara kecil dibelakang kepala saya mulai bertanya. Apa benar saya harus mengosongkan pikiran? Apa sebenarnya maksud dari “mengosongkan pikiran”? Huff… Tiba-tiba jadi sedih.

Anyway, jadi apa yang harus disiapkan tentang perkuliahan? Mbuh. Saya sendiri masih mencari jawabannya.

Salam,

Sasa

penderita kegalauan akademik