Thinking is the First Step of Writing

Pulang

“Gak usah pulang, Sa, costly”

 

Batin saya berseru gembira setelah membaca pernyataan teman saya tersebut. Karena satu dan lain hal, saya memang belum siap mental untuk pulang. Pulang bermakna lebih dalam ketika radius kita dari rumah bukan lagi satu dua kota. Ada level lebih tinggi untuk memaknai “pulang”. Jauh lebih kompleks dari ketika saya bersekolah di Jogja.

 

Apa saya tidak rindu orang tua saya? Jujur, gak ya? Semoga tidak terdengar kayak anak durhakan kalau saya bilang “emmm, enggak tuh”. Untuk orang yang menitikberatkan komunikasi, memasang dan mengajari skype pada bapak dan ibu terbayar sempurna. Bahkan sepertinya saya tidak pernah selancar ini berkomunikasi dengan mereka. Lucu ya, betapa kehidupan satu atap tidak menjamin kerukunan manusia di dalamnya?

 

Ok, jadi saya belum menemukan jawaban. Untuk apa pulang? Ketemu pacar? Yak, saya minta amin nya sodara-sodara. Aaaaminnn. Ah sudah lah, posting ini bukan ditujukan untuk curhat tentang hal-hal yang saya sendiri masih pertanyakan. Mari kemudian bertanya lagi: untuk apa pulang?

 

Saya tidak tahu siapa yang menyanyikan aslinya, tapi Mcfly berkata “home is where the heart is, where we started, where we belong…. Jeng jeng jeng jeng” Ehm, pardon the sound fx. Jadi pertanyaannya, where’s your heart? My heart grow in a place that grow on me. Nah lho… Piye? Piye? Mungkin penjelasannya gini: “rumah” itu bukan sekedar house, tapi home. Perasaan nyaman ada di dalamnya. Disaat setiap pagi hari kita harus bergelut dan berkata “lima menit lagi deh” lalu kembali tidur untuk setengah jam kemudian. Oh, dan perasaan bisa memakai toilet dengan nyaman.

 

Maka, Canberra pun rumah saya? Mungkin. Satu hal yang pasti sebuah rumah akan memanggil kita untuk kembali. Seperti juga Bekasi dan Jogja. Mungkin Canberra akan memanggil saya untuk pulang. Jadi, untuk apa pulang? Jawabnya untuk mengunjungi rumah saya yang lain. Untuk merasakan mendengar lagi ayam sialan yang berkokok jam 3 pagi. Atau pun mendengar azan maghrib yang menandai sebuah akhir hari. Hal-hal tersebut ada di “rumah” saya yang lain. Untuk itu saya akan pulang.

 

Salam,

 

Sasa

Sudah gak lagi galau akademik, cuma agak homesick

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: