Thinking is the First Step of Writing

Archive for Januari, 2014

Food Love

“I grow my own food”

Kata ibu instruktur  gardening beberapa bulan lalu. Mata saya berbinar. Kepikiran. Pengen. Iri.

Sudah lama saya punya keinginan itu. Mungkin gak akan sekeren punya hasil kebun yang bisa mensupport kebutuhan makan sehari-hari, tapi setidaknya dimulai dari bumbu dapur macam cabe, tomat, bawang-bawangan, jahe, serta kawan-kawannya. Maka sepulang dari workshop itu saya pun memulai kebun kecil saya di pinggir jendela apartemen.  Hasil “panen” dari kebun kecil itu dipakai untuk membuat indomie rebus telur dengan potongan cabe hijau, lemon tea mint dan steak dengan mint butter. Walaupun akan berlebihan untuk bilang makanan/minuman itu terasa lebih enak, tapi ada antusiasme tersendiri saat memasak dan penghargaan yang sulit dijelaskan waktu saya makan/minum. Lagi, cuma kepikiran aja, kalau baru bumbu nya aja yang dari hasil kebun sendiri sudah terasa begitu spesial, bagaimana dengan makanan sehari-hari di ibu. As she said, “I grow my own food”, then her food must be ultra special.

Saya pun gak bisa menahan diri membayangkan dia dengan hati-hati menakar apa aja yang dia perlukan, karena tentunya dia gak akan serakah mengambil semua hasil panennya untuk sekali makan. Kemudian dia akan memasaknya dengan penuh perhitungan karena bagaimanapun juga tanaman-tanaman itu adalah hasil jerih payahnya. Terakhir, mungkin dia akan memberikan penghormatan yang sangat tinggi untuk makanan yang ada di mejanya. 

Mungkin itu yang kita butuhkan untuk mengatasi masalah food waste yang sudah begitu parahnya. Gak perlu lah mengkutip statistik menurut lembaga ini dan itu, cukup sekedar menengok ke pasar (swalayan maupun tradisional) berapa banyak bahan makanan yang rusak, lalu dibuang? Bahkan mungkin cukup melihat ke kulkas sendiri, berapa banyak makanan yang mendekati kadaluarsa? Mungkin si bahan makanan itu adalah sisa-sisa yang belum sempat termasak atau dibeli karena diskon “mendekati best before”? Intinya, si bahan makanan itu akan terbuang sia-sia dan dengan mudahnya, “ah udah rusak” batin kita. Kita tidak lagi merasa sayang untuk membuang bahan-bahan tersebut.

Posting ini bukannya menyarankan tetap memakai bahan-bahan makanan yang sudah rusak ataupun sudah kadaluarsa. Tapi saya yang kepikiran, mungkin jika kita belajar untuk menanam sendiri apa yang kita makan, penghormatan kita akan makanan akan lebih besar. Kita mungkin bisa menahan diri untuk membeli makanan yang gak bisa kita habiskan, apalagi membuang makanan yang sudah ada di piring kita. Because we love our food, and we respect it.

 

Salam,

 

 

Sasa

Masih suka buang makanan 😦