Thinking is the First Step of Writing

Archive for Agustus, 2014

Salahkah Babi?

“Apa salah babi?”

Pembicaraan saya dan seorang teman di pagi Lebaran beberapa waktu lalu sedikit diluar tema ketupat dan opor. Tema ini diawali dengan saya yang mengungkapkan ketidaknyamanan saya bahwa banyak rekan yang masih tidak suka menggunakan kata “babi” walaupun dalam sebuah pembicaraan normal. Misal saat membahas kuliner mereka akan bilang mengganti babi dengan “b2”, “bab”, atau “piggy”, atau pun menyensornya.

Saya pun teringat beberapa tahun lalu ketika KKN disebuah daerah, kami sedang membahas PR Bahasa Inggris dan membahas hewan ternak, lalu adik-adik yang sedang belajar merasa sungkan mentranslasikan kata “Pig”. Mereka hanya mengikik malu-malu. Entah kenapa.

Jujur saya bingung. Kembali kesebuah pertanyaan yang saya ungkapkan ke teman saya. “Apa salah babi?” Memang di Indonesia yang mayoritas beragama Islam konsumsi babi diharamkan. Katanya babi itu hewan yang kotor dan dagingnya terkontaminasi cacing pita. Ok, saya tidak ingin men-challenge statement itu. Tapi, lagi, saya bertanya,” apa salah babi?”. Apakah karena dia tidak boleh dikonsumsi dan haram lantas segala macam tentang hewan itu juga haram? Bahkan untuk disebut? Kasihannya…

Menurut logika saya, terlepas dari agama yang saya anut, saya percaya tidak ada satupun ciptaan Tuhan yang sia-sia. Semua punya guna. Semua punya peran. Saya percaya Yang Maha Kuasa memberi tempat bagi semua mahkluknya dan dunia ciptaan-Nya adalah sebuah rangkaian kesempurnaan. Bahkan hewan bernama babi pun tidak mungkin ada tanpa punya guna dan peran dalam keberadaannya.

Saya melihat kesungkanan menyebut babi walaupun dalam pembicaraan yang sama sekali netral sepenuhnya adalah bentukan lingkungan sekitar. Seperti juga beberapa kata yang tidak bisa diucapkan karena dipandang tabu. Jadi, rasanya yang bisa disesuaikan disini adalah perspektifnya. Selama yang kita bicarakan tidak mengandung makna negatif mengapa penggunaan kata yang sama sekali normal harus dipandang negatif.

 

Salam,

 

Sasa

Bukan fans Piglet dari kartun Winny the Pooh

Iklan

Malu Bertanya Sesat di Jalan

“Have you ever heard a saying ‘Curiosity killed the cat’?”

Hampir setahun setelah saya bertemu dengan seorang ibu mengatakan pertanyaan itu.

Kami bertemu Ramadhan tahun lalu. Di sebuah bus stop di kawasan suburb Canberra. Pagi itu hari pertama Ramadhan, dan obrolan kami dibuka dengan chit-chat basa-basi. Ketika saya mengatakan sedang berpuasa dan adalah seorang muslim, ia mulai tertarik. Namun bis kami tiba beberapa saat sebelumnya dan pembicaraan kami terpotong.

Ketika bis kami tiba di City Interchange, kami ternyata turun di tempat yang sama dan beliau mengeluarkan pertanyaan di atas. Rupanya cuplikan pembicaraan kami sebelumnya telah menarik rasa penasarannya.

Ia pun berujar jujur ingin mengeluarkan beberapa pertanyaan mengenai keberagamaan saya, ada ketakutan di kalimatnya, seakan takut saya akan tersinggung. Akan tetapi saya bisa jamin, sayalah yang justru lebih ketakutan, “Pegimana inih?! Pegimanaahhh??!”. Saat itu, tentu saya memasang tampang kece dan berkata akan dengan senang hati menjawab pertanyaan beliau.

Beberapa yang menarik perhatian (yang masih saya ingat) adalah “You are the first muslim that I know who are not wearing veil, why are you not wearing it?”, “So your parent does not force marriage against you?”, dan “You can marry a guy of your choice?”

Pembicaraan itu berlangsung selama lima sampai sepuluh menit. Tapi sampai hari ini saya masih mengingat kegentaran yang saya rasakan dan betapa saya berusaha mengawali setiap jawaban dengan “In my view” dan “Personally” untuk memastikan saya tidak memberi gambaran yang menggeneralisir. Walaupun begitu, itu momen kecil yang secara luar biasa membuka pikiran dan menuntut saya belajar lebih banyak lagi. Satu hal terpenting dari momen itu adalah, saya salut dengan beliau yang jujur mengungkapkan keinginannya untuk tahu lebih dan mencari jawaban atas keingintahuannya. Kesalutan ini membawa pelajaran yang lebih besar untuk saya kembali memaknai sebuah peribahasa Indonesia yang sudah lama saya lupakan “Malu bertanya sesat di jalan”

Salam,

Sasa

Masih struggling buat bangun Subuh tiap pagi.