Thinking is the First Step of Writing

Archive for the ‘Sosial’ Category

Malu Bertanya Sesat di Jalan

“Have you ever heard a saying ‘Curiosity killed the cat’?”

Hampir setahun setelah saya bertemu dengan seorang ibu mengatakan pertanyaan itu.

Kami bertemu Ramadhan tahun lalu. Di sebuah bus stop di kawasan suburb Canberra. Pagi itu hari pertama Ramadhan, dan obrolan kami dibuka dengan chit-chat basa-basi. Ketika saya mengatakan sedang berpuasa dan adalah seorang muslim, ia mulai tertarik. Namun bis kami tiba beberapa saat sebelumnya dan pembicaraan kami terpotong.

Ketika bis kami tiba di City Interchange, kami ternyata turun di tempat yang sama dan beliau mengeluarkan pertanyaan di atas. Rupanya cuplikan pembicaraan kami sebelumnya telah menarik rasa penasarannya.

Ia pun berujar jujur ingin mengeluarkan beberapa pertanyaan mengenai keberagamaan saya, ada ketakutan di kalimatnya, seakan takut saya akan tersinggung. Akan tetapi saya bisa jamin, sayalah yang justru lebih ketakutan, “Pegimana inih?! Pegimanaahhh??!”. Saat itu, tentu saya memasang tampang kece dan berkata akan dengan senang hati menjawab pertanyaan beliau.

Beberapa yang menarik perhatian (yang masih saya ingat) adalah “You are the first muslim that I know who are not wearing veil, why are you not wearing it?”, “So your parent does not force marriage against you?”, dan “You can marry a guy of your choice?”

Pembicaraan itu berlangsung selama lima sampai sepuluh menit. Tapi sampai hari ini saya masih mengingat kegentaran yang saya rasakan dan betapa saya berusaha mengawali setiap jawaban dengan “In my view” dan “Personally” untuk memastikan saya tidak memberi gambaran yang menggeneralisir. Walaupun begitu, itu momen kecil yang secara luar biasa membuka pikiran dan menuntut saya belajar lebih banyak lagi. Satu hal terpenting dari momen itu adalah, saya salut dengan beliau yang jujur mengungkapkan keinginannya untuk tahu lebih dan mencari jawaban atas keingintahuannya. Kesalutan ini membawa pelajaran yang lebih besar untuk saya kembali memaknai sebuah peribahasa Indonesia yang sudah lama saya lupakan “Malu bertanya sesat di jalan”

Salam,

Sasa

Masih struggling buat bangun Subuh tiap pagi.

Iklan

Hak Merokok dan Hak Bernafas Tanpa Asap Rokok

“Jika menghirup udara bersih dan sehat itu hak kita, maka merusak paru-paru itu hak mereka”

Semoga kalimat di atas tidak mengesankan saya mendukung orang-orang merokok. Namun soal rokok dan asap rokok saya akan menyatut lagu Borju-nya Neo. “Gue sih asik aje selama die gak nyenggol gue, watta!!” Ok, minus kata watta, walaupun sebenarnya itu yang saya ingin lakukan sembari melakukan aksi violent kepada perokok yang mengganggu hak saya menghirup udara bersih.

Dulu saya berpikir, kenapa tidak tutup saja semua pabrik rokok? Selesai masalah. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi ide itu terlalu naif. Ribuan orang bergantung pada industri ini dari buruh hingga orang-orang berdasi. Jika pun suatu saat nanti industri rokok akan ditiadakan harus ada peralihan lapangan kerja yang jelas juga peralihan fungsi lahan dan bahan produksi rokok. Namun saya juga tidak pandai soal itu, jadi pastinya saya harus belajar lebih banyak apabila ingin bicara perihal tersebut.

Yang saya cukup ketahui dengan baik adalah setiap orang punya hak menentukan hidupnya sendiri, termasuk perihal kesehatannya sendiri. Apabila seseorang ingin merokok, ya dipersilahkan saja. Tentunya, asal ia tidak membuat orang lain menjadi perokok pasif. Misalnya merokok di ruangan tertutup yang asap rokoknya semua dikonsumsi sendiri. Merokok di sebuah helm khusus yang asapnya dihirup langsung oleh yang merokok. Kalau bisa begitu ya silahkan saja merokok sepuasnya.

Sementara itu orang-orang yang tidak merokok seharusnya juga punya hak, hak hidup sehat, hak bernafas selega mungkin. Untuk saya yang tidak merokok, menghirup asap rokok sama saja rasanya dengan menghirup asap hitam dari knalpot angkutan umum. Sama-sama tidak enak. Sama-sama membuat asma saya kumat. Sayangnya tidak seperti pengendara begajulan yang mungkin masih punya hati membiayai korban yang ia tabrak, perokok mana mau tau dengan orang-orang yang dibuatnya sakit. Kasian ya saya dan rekan-rekan lain yang tidak merokok. 

Maka untuk teman-teman yang masih merokok, silahkan bela hak kalian, dan saya akan berdoa kalian menjadi orang-orang yang mempunyai hati lebih besar untuk menghormati hak orang lain 🙂

Salam,

Sasa

Sering Jadi Perokok Pasif

Peraturan dengan Hati

Beberapa posting lalu, saya pernah bercerita tentang seorang perempuan muda yang tidak mau memberikan tempat duduknya pada seorang ibu hamil. Alasannya, kursi yang ia duduki bukan “kursi prioritas”, hingga ia berhak mendudukinya dan petugas TransJakarta harusnya mengosongkan kursi prioritas untuk kasus seperti ini. Saya dan beberapa orang di bus hannya geleng-geleng iba pada mbaknya, tindakannya menegakan peraturan sungguh tidak melihat kondisi.

Hari pun berjalan lagi, jakarta mulai hujan, jakarta kebanjiran, dan AC di kantor menyembur dengan inhuman, saya dengan damai melupakan kasus kursi prioritas, sampai tadi pagi. Saya yang membawa dua tas besar diusir dari tempat saya bersandar oleh seorang bapak yang membawa map. Katanya, “Perempuan di depan mbak”, ia merujuk pada peraturan bahwa disitu bukan ladies area (btw, sadarkah anda bahwa di TransJakarta “ladies area” ditulis dengan “Ladie’s Area”?). Dalam dua detik saya mengalami dilema antara membela diri dengan alasan bawaan saya berat sehingga saya butuh tempat bersadar dan langsung pindah karena si bapak mengantongi legitimasi dari bapak lain yang bergumam setuju bahwa saya seharusnya di ladies area. “It’s not worth the stress”, saya membatin, lagipula hari masih panjang.

Hal ini membuat kepala saya merewind kasus mbak kursi prioritas yang berusaha menegakan rules dengan motif yang dipertanyakan. Penegakan rules atau memanfaatkan rules? Apakah mereka juga akan mempertahankan rules jika hal itu menghambat atau merugikan mereka? Saya tidak ingin berspekulasi dan menambah dosa saya dengan memberikan cap buruk bagi mereka, maybe they have a super awful day. Pelajaran yang saya ambil (lagi) adalah tentang bagaimana mengkondisikan rules, karena saya percaya bukan aturan yang harus mengatur manusia, tapi manusia yang harus memegang kendali atas aturan. Karena manusia bukan robot, ada kalanya rules harus disesuaikan atas dasar simpati dan empati. Pelaksanaan rules yang dengan dingin dan tidak pandang bulu menunjukan tingkat ketaatan yang menakutkan yang pada akhirnya akan membuat sikap apatis antar manusia. “Yang penting saya tidak melanggar”, sungguh menakutkan jika ini yang terjadi. Lalu bagi orang-orang yang memutuskan untuk menegakkan peraturan karena itu menyamankannya, Well, goodluck with that. Saya hanya bisa berharap mungkin kapan-kapan orang-orang tersebut perlu menilik kembali kondisi dan situasi saat itu, agar peraturan yang ingin ditegakan tidak kehilangan hati.

Salam,

Sasa

Pengguna TJ BNN-Gatsu

PR dari Jakarta Night Festival

Saya sama sekali tidak mengingkari Jakarta Night Festival (JNF) merupakan ide brilian. Tahun baru yang biasanya diisi dengan konvoi kendaraan bermotor yang terkesan riweh dan tidak apik tergantikan dengan car (and motor cycle) free night dimana semua orang bisa berjalan kaki meninkmati berbagai hiburan yang ada. Sama-sama riuh sih, tapi paling tidak adegan lautan kemacetan penghasil karbon dan suara klakson bisa sedikit dikurangi.

Sayang, berita kerusakan taman kota dan sampah yang menumpuk paska pesta rakyat itu merusak semangat tahun baru 2013. Sebenarnya hal ini sudah bisa diprediksi. Siapa yang akan cukup sadar diri untuk membuang sampah ditempatnya dan tidak menginjak rumput ketika ada perayaan seperti JNF? Jangankan dalam perayaan, saat tidak merayakan apapun saja sikap tidak peduli dan “cari mudahnya saja” gampang  ditemukan. Jika ada tumpukan sampah maka itu diinterpretasikan sebagai tempat sampah, “lha orang-orang aja pada buang sampah disitu”. Jika ada space kosong yang tidak seharusnya ditempati maka itu merupakan lahan yang harusnya diisi, “toh bukan saya sendiri yang akan berdiri disini”.

Mungkin ingin sedikit berbaiksangka mungkin kerusakan itu tercipta karena persiapan yang tidak cukup matang. Misalnya tentang sampah, bisa jadi dikarenakan kurangnya jumlah tempat sampah dan kurangnya jumlah petugas kebersihan. Masalah infrastruktur yang kurang memadai ini sering kali menjadi sandungan yang kemudian dijadikan alasan untuk membuang sampah sembarangan.

Lalu perihal taman yang rusak, mungkin disebabkan pagar yang kurang tinggi maupun pengamanan yang tidak cukup ketat. Lalu dengan antusiasme yang begitu besar sehingga pengunjung tidak lagi dapat merasakan apakah yang diinjak adalah aspal ataukah rumput, yang ditendang adalah pot taman kota ataukah sekedar sampah dari pengunjung lain.

Mungkin fakta bahwa saya tidak menghadiri JNF menjadikan saya tidak berhak memutuskan untuk menyimpulkan apa akar dari masalah ini, kurang siapnya infrastruktur atau kesadaran rendah pengunjung? Namun event ini bisa menjadi salah satu tolok ukur untuk membenahi Jakarta. Bahwa masih banyak PR yang harus dikerjakan pemerintah maupun masyarakat apabila event yang serupa diadakan 31 Desember 2013 nanti yang semoga saja tidak hanya car free tetapi juga damage free. Saya percaya, kita bisa 🙂

 

Salam,

 

Khanisa

Tahun Baruan di Rumah

Malu Sebelum Mengeluh

“Saat kita semudah itu membuang bungkus permen sembangan maka kira tidak akan keberatan melakukan dosa-dosa besar lainnya.” (Saya, 4 Oktober 2012)

 

Saya meradang saat seorang bapak-bapak perlente bersopir dan bermobil bagus membuang bungkus permen dari jendela mobilnya. Puff. Bungkus permen itu tertiup angin. Mari kita lihat saat hujan mulai turun memenuhi got yang tersumbat sampah-sampah, mungkin diantaranya ada bungkus permen si bapak. Dan kita lihat nanti apabila si bapak mengeluh dengan kalimat “Yah banjir, Macet deh.”

 

Tentunya hal ini hanya contoh kecil dari betapa dangkalnya sikap mengeluh yang dibarengi rasa tidak tahu malu. Bayangkan bagaimana nanti saat rasa malu ini menghilang diri seseorang, dimulai dari membuang sampah, memotong antrian, berbicara pongah, bersikap kasar, lalu apakah seseorang akan malu kalau berbuat tindakan imoral lainnya? Yang lebih buruk lagi saat si tidak tahu malu ini mengeluh akan kumpulannya yang ia rasa rusak dan tidak bermoral. Sebuah lingkaran yang tidak akan habis. Dan berujung pada kerusakan masif.

 

Perbaikan bukan datang dari langit tanpa usaha dari masing-masing individu. Namun setahu saya banyak orang terbiasa menunjuk keburukan halaman tetangga ketika yang dibandingkan adalah keburukan halamannya (peribahasa “rumput tetangga lebih hijau” nampaknya hanya berlaku pada pembandingan hal-hal baik). Jika ada orang yang membuang sampah sembarangan, ia akan menunjuk jalanan penuh sampah hasil dari orang-orang lainnya yang sembarangan membuang sampah. Lalu sampai kapan kita ikut memuang sampah dan menjadi bagian dari orang-orang yang bersalah saat banjir datang?

 

Jangan menunggu untuk lebih baik, sekali lagi perubahan tidak datang dari langit. Apabila tidak kita hanya akan menjadi para pengeluh yang mati ditengelamkan oleh hal-hal yang dikeluhkannya.

 

Salam,

Khanisa

Tidak suka banjir