Thinking is the First Step of Writing

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Food Love

“I grow my own food”

Kata ibu instruktur  gardening beberapa bulan lalu. Mata saya berbinar. Kepikiran. Pengen. Iri.

Sudah lama saya punya keinginan itu. Mungkin gak akan sekeren punya hasil kebun yang bisa mensupport kebutuhan makan sehari-hari, tapi setidaknya dimulai dari bumbu dapur macam cabe, tomat, bawang-bawangan, jahe, serta kawan-kawannya. Maka sepulang dari workshop itu saya pun memulai kebun kecil saya di pinggir jendela apartemen.  Hasil “panen” dari kebun kecil itu dipakai untuk membuat indomie rebus telur dengan potongan cabe hijau, lemon tea mint dan steak dengan mint butter. Walaupun akan berlebihan untuk bilang makanan/minuman itu terasa lebih enak, tapi ada antusiasme tersendiri saat memasak dan penghargaan yang sulit dijelaskan waktu saya makan/minum. Lagi, cuma kepikiran aja, kalau baru bumbu nya aja yang dari hasil kebun sendiri sudah terasa begitu spesial, bagaimana dengan makanan sehari-hari di ibu. As she said, “I grow my own food”, then her food must be ultra special.

Saya pun gak bisa menahan diri membayangkan dia dengan hati-hati menakar apa aja yang dia perlukan, karena tentunya dia gak akan serakah mengambil semua hasil panennya untuk sekali makan. Kemudian dia akan memasaknya dengan penuh perhitungan karena bagaimanapun juga tanaman-tanaman itu adalah hasil jerih payahnya. Terakhir, mungkin dia akan memberikan penghormatan yang sangat tinggi untuk makanan yang ada di mejanya. 

Mungkin itu yang kita butuhkan untuk mengatasi masalah food waste yang sudah begitu parahnya. Gak perlu lah mengkutip statistik menurut lembaga ini dan itu, cukup sekedar menengok ke pasar (swalayan maupun tradisional) berapa banyak bahan makanan yang rusak, lalu dibuang? Bahkan mungkin cukup melihat ke kulkas sendiri, berapa banyak makanan yang mendekati kadaluarsa? Mungkin si bahan makanan itu adalah sisa-sisa yang belum sempat termasak atau dibeli karena diskon “mendekati best before”? Intinya, si bahan makanan itu akan terbuang sia-sia dan dengan mudahnya, “ah udah rusak” batin kita. Kita tidak lagi merasa sayang untuk membuang bahan-bahan tersebut.

Posting ini bukannya menyarankan tetap memakai bahan-bahan makanan yang sudah rusak ataupun sudah kadaluarsa. Tapi saya yang kepikiran, mungkin jika kita belajar untuk menanam sendiri apa yang kita makan, penghormatan kita akan makanan akan lebih besar. Kita mungkin bisa menahan diri untuk membeli makanan yang gak bisa kita habiskan, apalagi membuang makanan yang sudah ada di piring kita. Because we love our food, and we respect it.

 

Salam,

 

 

Sasa

Masih suka buang makanan 😦

 

Pulang

“Gak usah pulang, Sa, costly”

 

Batin saya berseru gembira setelah membaca pernyataan teman saya tersebut. Karena satu dan lain hal, saya memang belum siap mental untuk pulang. Pulang bermakna lebih dalam ketika radius kita dari rumah bukan lagi satu dua kota. Ada level lebih tinggi untuk memaknai “pulang”. Jauh lebih kompleks dari ketika saya bersekolah di Jogja.

 

Apa saya tidak rindu orang tua saya? Jujur, gak ya? Semoga tidak terdengar kayak anak durhakan kalau saya bilang “emmm, enggak tuh”. Untuk orang yang menitikberatkan komunikasi, memasang dan mengajari skype pada bapak dan ibu terbayar sempurna. Bahkan sepertinya saya tidak pernah selancar ini berkomunikasi dengan mereka. Lucu ya, betapa kehidupan satu atap tidak menjamin kerukunan manusia di dalamnya?

 

Ok, jadi saya belum menemukan jawaban. Untuk apa pulang? Ketemu pacar? Yak, saya minta amin nya sodara-sodara. Aaaaminnn. Ah sudah lah, posting ini bukan ditujukan untuk curhat tentang hal-hal yang saya sendiri masih pertanyakan. Mari kemudian bertanya lagi: untuk apa pulang?

 

Saya tidak tahu siapa yang menyanyikan aslinya, tapi Mcfly berkata “home is where the heart is, where we started, where we belong…. Jeng jeng jeng jeng” Ehm, pardon the sound fx. Jadi pertanyaannya, where’s your heart? My heart grow in a place that grow on me. Nah lho… Piye? Piye? Mungkin penjelasannya gini: “rumah” itu bukan sekedar house, tapi home. Perasaan nyaman ada di dalamnya. Disaat setiap pagi hari kita harus bergelut dan berkata “lima menit lagi deh” lalu kembali tidur untuk setengah jam kemudian. Oh, dan perasaan bisa memakai toilet dengan nyaman.

 

Maka, Canberra pun rumah saya? Mungkin. Satu hal yang pasti sebuah rumah akan memanggil kita untuk kembali. Seperti juga Bekasi dan Jogja. Mungkin Canberra akan memanggil saya untuk pulang. Jadi, untuk apa pulang? Jawabnya untuk mengunjungi rumah saya yang lain. Untuk merasakan mendengar lagi ayam sialan yang berkokok jam 3 pagi. Atau pun mendengar azan maghrib yang menandai sebuah akhir hari. Hal-hal tersebut ada di “rumah” saya yang lain. Untuk itu saya akan pulang.

 

Salam,

 

Sasa

Sudah gak lagi galau akademik, cuma agak homesick

Can Be Rough

“Kalo dibandingkan Sydney, Melbourne dan Canberra itu kayak bandingin Jakarta, Bandung dan Wates”

Begitu iming-iming beberapa senior saat diskusi tentang pengalaman mereka yang pernah ke Australia. Saya ingat beberapa dari kami hanya tersenyum masam. Saya saat itu hanya bisa berpegang teguh pada keyakinan saya, “Tujuannya kan belajar, bagus dong kalo sepi.” Maka saya pun saat itu tidak gamang tentang keinginan saya ke Canberra. Jikapun ada keraguan bisa dipastikan saya lebih khawatir tentang apakah saya akan lulus EILTS atau tidak.

Setelah  beberapa kekhawatiran terlalui, saya pun melangkah yakin ke Canberra. Hello… Adventure! Dan saat pesawat berbaling-baling itu landing, pemandangan Canberra yang gloomy membuat saya harus literally bertanya-tanya “Hello… Adventure?”. Well, Canberra benar-benar terlihat sepi saat saya datang, mungkin karena saya datang saat public holiday dan semua orang lebih senang kemulan di samping heater.

Namun Canberra yang sepi, Canberra yang lifeless, Canberra yang membosankan bagi saya beberapa hal ini hanya jadi pikiran 15 menit pertama dari menjejakan kaki di Canberra, karena yang menjadi Setan besar bagi saya adalah Canberra yang sedang Winter. Mungkin karena ini pertama kali saya mengalami kondisi seperti ini, negara 4 musim dimana anginnya kering dan mataharinya hanya jadi pajangan yang sukur-sukur bisa mengeringkan cucian.

Sepertinya butuh waktu sampai 2 minggu hingga saya bisa berstrategi menghadapi udara yang membuat kulit pecah-pecah. Beruntungnya di Canberra tersedia pilihan air panas disetiap keran yang pernah saya temui disini. Dan memaksa diri untuk mandi ternyata efektif untuk mengusir dingin. Maaf Bumi, bukan maksud hati untuk buang-buang sumber daya, tapi percayalah saya mencoba mandi dengan air sehemat mungkin kok. Berkompromi dingin? Sip!

Kembali ke Canberra yang sepi, lifeless, dan membosankan. Hemm? Really. Karena sepi, lifeless dan membosankan adalah mindset orang-orang yang tidak bisa menciptakan teman imajinernya sendiri . Ok, itu terdengar salah. Kata teman imajiner saya seharusnya saya menulis “Karena sepi, lifeless dan membosankan adalah mindset orang-orang yang tidak mau mencari kesenangan sendiri.” Ok, ada bagian yang masih terasa salah. Ah, sudahlah.

Anyway, walaupun tidak seramai Sydney atau Melbourne. Canberra belum berarti pojok terpencil di balik barisan bukit, semua bisa ditemukan disini kok. Perihal makanan, percaya atau tidak, makanan-makanan pertama saya disini adalah nasi, sayur asem, sayur lodeh, sambel ulek, opor, empal dan berbagai makanan indonesia lainnya. Mencari pub dan nightlife, ada kok, at least dari luar sih saya liat, saya lebih tertarik masuk toko komik. Muehehe. Ada banyak hal-hal spesifik lainnya yang kalau dicari pasti bisa di dapat di Canberra.

Jadi setelah sebulan observasi saya, satu-satunya nama sebutan yang masih saya gunakan untuk menyebut kota ini adalah Can-Brrrr-a, sedangkan Can-be-rough? Itu akan tergantung seberapa banyak teman imajiner yang bisa menyarankan hal-hal menyenangkan pada kita. Ok, ini kalimat masih aja terasa salah.

Salam,

Sasa

Sedang merayakan sebulanan touch down di Canberra.

Peraturan dengan Hati

Beberapa posting lalu, saya pernah bercerita tentang seorang perempuan muda yang tidak mau memberikan tempat duduknya pada seorang ibu hamil. Alasannya, kursi yang ia duduki bukan “kursi prioritas”, hingga ia berhak mendudukinya dan petugas TransJakarta harusnya mengosongkan kursi prioritas untuk kasus seperti ini. Saya dan beberapa orang di bus hannya geleng-geleng iba pada mbaknya, tindakannya menegakan peraturan sungguh tidak melihat kondisi.

Hari pun berjalan lagi, jakarta mulai hujan, jakarta kebanjiran, dan AC di kantor menyembur dengan inhuman, saya dengan damai melupakan kasus kursi prioritas, sampai tadi pagi. Saya yang membawa dua tas besar diusir dari tempat saya bersandar oleh seorang bapak yang membawa map. Katanya, “Perempuan di depan mbak”, ia merujuk pada peraturan bahwa disitu bukan ladies area (btw, sadarkah anda bahwa di TransJakarta “ladies area” ditulis dengan “Ladie’s Area”?). Dalam dua detik saya mengalami dilema antara membela diri dengan alasan bawaan saya berat sehingga saya butuh tempat bersadar dan langsung pindah karena si bapak mengantongi legitimasi dari bapak lain yang bergumam setuju bahwa saya seharusnya di ladies area. “It’s not worth the stress”, saya membatin, lagipula hari masih panjang.

Hal ini membuat kepala saya merewind kasus mbak kursi prioritas yang berusaha menegakan rules dengan motif yang dipertanyakan. Penegakan rules atau memanfaatkan rules? Apakah mereka juga akan mempertahankan rules jika hal itu menghambat atau merugikan mereka? Saya tidak ingin berspekulasi dan menambah dosa saya dengan memberikan cap buruk bagi mereka, maybe they have a super awful day. Pelajaran yang saya ambil (lagi) adalah tentang bagaimana mengkondisikan rules, karena saya percaya bukan aturan yang harus mengatur manusia, tapi manusia yang harus memegang kendali atas aturan. Karena manusia bukan robot, ada kalanya rules harus disesuaikan atas dasar simpati dan empati. Pelaksanaan rules yang dengan dingin dan tidak pandang bulu menunjukan tingkat ketaatan yang menakutkan yang pada akhirnya akan membuat sikap apatis antar manusia. “Yang penting saya tidak melanggar”, sungguh menakutkan jika ini yang terjadi. Lalu bagi orang-orang yang memutuskan untuk menegakkan peraturan karena itu menyamankannya, Well, goodluck with that. Saya hanya bisa berharap mungkin kapan-kapan orang-orang tersebut perlu menilik kembali kondisi dan situasi saat itu, agar peraturan yang ingin ditegakan tidak kehilangan hati.

Salam,

Sasa

Pengguna TJ BNN-Gatsu