Thinking is the First Step of Writing

Galau Akademik

“Jadi apa yang harus disiapkan soal perkuliahan disana, Sa?”

Itu salah satu pertanyaan dari seorang teman yang bulan januari ini akan menjejakkan kaki di Australia. Pertanyaan ini belum lama saya terima. Maka saya masih ingat jelas jawaban yang saya berikan “lebih baik dikosongkan pkirannya mas, biar menerima pelajarannya juga leluasa.” Jawaban ini tentunya tidak dapat diartikan dalam makna harfiah. Bukan, bukan soal bongkar isi kepala terus melempar otak untuk makanan zombie. Yang saya maksud adalah cara belajar dan materi-materi yang saya dapat disini jauh berbeda dari yang pernah saya pelajari sebelumnya. Kadang lebih dari sekedar update, kadang bertolak belakang sampai-sampai saya merasa yang selama ini saya pelajari benar-benar tidak ada artinya.

Humm, mungkin masih terbawa shock dengan hasil semester kemarin yang dapat dibilang kurang memuaskan. Kurang dua point dari point minimal yang harusnya saya raih. Stress? Yep. Tapi ada perasaan yang lebih parah yang katanya akan banyak dirasakan siswa di awal masa belajarnya. sebuah perasaan yang kalau disimpulkan kira-kira seperti ini “Gue bego banget apa ya?!”

Perasaan marah pada diri sendiri itu mungkin muncul karena saya gagal di mata kuliah utama dimana saya menulis tentang hal yang sudah saya pelajari selama dua tahun belakangan. Menurut feedback yang saya dapatkan, saya belum menguasai konsep dari materi yang saya tulis. Disanalah kemudian saya merenungkan kembali jawaban yang saya berikan pada teman saya tentang mengosongkan pikiran. Mungkin saya belum cukup mengosongkan pikiran untuk menerima konsep yang diberikan yang berimbas pada hasil yang kurang maksimal. Namun suara kecil dibelakang kepala saya mulai bertanya. Apa benar saya harus mengosongkan pikiran? Apa sebenarnya maksud dari “mengosongkan pikiran”? Huff… Tiba-tiba jadi sedih.

Anyway, jadi apa yang harus disiapkan tentang perkuliahan? Mbuh. Saya sendiri masih mencari jawabannya.

Salam,

Sasa

penderita kegalauan akademik

Can Be Rough

“Kalo dibandingkan Sydney, Melbourne dan Canberra itu kayak bandingin Jakarta, Bandung dan Wates”

Begitu iming-iming beberapa senior saat diskusi tentang pengalaman mereka yang pernah ke Australia. Saya ingat beberapa dari kami hanya tersenyum masam. Saya saat itu hanya bisa berpegang teguh pada keyakinan saya, “Tujuannya kan belajar, bagus dong kalo sepi.” Maka saya pun saat itu tidak gamang tentang keinginan saya ke Canberra. Jikapun ada keraguan bisa dipastikan saya lebih khawatir tentang apakah saya akan lulus EILTS atau tidak.

Setelah  beberapa kekhawatiran terlalui, saya pun melangkah yakin ke Canberra. Hello… Adventure! Dan saat pesawat berbaling-baling itu landing, pemandangan Canberra yang gloomy membuat saya harus literally bertanya-tanya “Hello… Adventure?”. Well, Canberra benar-benar terlihat sepi saat saya datang, mungkin karena saya datang saat public holiday dan semua orang lebih senang kemulan di samping heater.

Namun Canberra yang sepi, Canberra yang lifeless, Canberra yang membosankan bagi saya beberapa hal ini hanya jadi pikiran 15 menit pertama dari menjejakan kaki di Canberra, karena yang menjadi Setan besar bagi saya adalah Canberra yang sedang Winter. Mungkin karena ini pertama kali saya mengalami kondisi seperti ini, negara 4 musim dimana anginnya kering dan mataharinya hanya jadi pajangan yang sukur-sukur bisa mengeringkan cucian.

Sepertinya butuh waktu sampai 2 minggu hingga saya bisa berstrategi menghadapi udara yang membuat kulit pecah-pecah. Beruntungnya di Canberra tersedia pilihan air panas disetiap keran yang pernah saya temui disini. Dan memaksa diri untuk mandi ternyata efektif untuk mengusir dingin. Maaf Bumi, bukan maksud hati untuk buang-buang sumber daya, tapi percayalah saya mencoba mandi dengan air sehemat mungkin kok. Berkompromi dingin? Sip!

Kembali ke Canberra yang sepi, lifeless, dan membosankan. Hemm? Really. Karena sepi, lifeless dan membosankan adalah mindset orang-orang yang tidak bisa menciptakan teman imajinernya sendiri . Ok, itu terdengar salah. Kata teman imajiner saya seharusnya saya menulis “Karena sepi, lifeless dan membosankan adalah mindset orang-orang yang tidak mau mencari kesenangan sendiri.” Ok, ada bagian yang masih terasa salah. Ah, sudahlah.

Anyway, walaupun tidak seramai Sydney atau Melbourne. Canberra belum berarti pojok terpencil di balik barisan bukit, semua bisa ditemukan disini kok. Perihal makanan, percaya atau tidak, makanan-makanan pertama saya disini adalah nasi, sayur asem, sayur lodeh, sambel ulek, opor, empal dan berbagai makanan indonesia lainnya. Mencari pub dan nightlife, ada kok, at least dari luar sih saya liat, saya lebih tertarik masuk toko komik. Muehehe. Ada banyak hal-hal spesifik lainnya yang kalau dicari pasti bisa di dapat di Canberra.

Jadi setelah sebulan observasi saya, satu-satunya nama sebutan yang masih saya gunakan untuk menyebut kota ini adalah Can-Brrrr-a, sedangkan Can-be-rough? Itu akan tergantung seberapa banyak teman imajiner yang bisa menyarankan hal-hal menyenangkan pada kita. Ok, ini kalimat masih aja terasa salah.

Salam,

Sasa

Sedang merayakan sebulanan touch down di Canberra.

Jogja Jilid Dua

“I spent four years in Jogja for my bachelor degree, so coming here is like an upgrade of beeing away from home”

Begitu jawab saya ketika kepala Administrasi Studi bertanya bagaimana perasaan keluarga melepas saya pergi ke Canberra. Dan setelah dua minggu jawaban saya masih sama. Rindu rumah? Sepertinya saya lebih sibuk bersiasat mengenai dinginnya Canberra dari pada memikirkan kehangatan rumah. Ingin cepat pulang? Tidak juga. Jika bisa malah saya ingin berkelana sejauh-jauhnya memaksimalkan kesempatan dua tahun yang diberi Tuhan. Anak Durhaka! Enak saja. Ibu saya jelas-jelas merestui saya menyerap sebanyak-banyaknya apa yang bisa saya lakukan di negeri orang.

Ok, blog post ini mulai terasa seperti cerpen. Mungkin karena saya sedang ingin sekali menuliskan suatu plot dikepala saya, tapi itu akan saya simpan untuk nanti.

Kembali ke judul di atas, berminggu-minggu sebelum tanggal kepergian ke Canberra ibu saya sudah mewanti-wanti tentang berbagai hal, beliau beralasan bahwa kepergian saya kali ini bukan ketempat yang bisa dicapai dengan berkereta selama 8 jam seperti ke Jogja. Perlu paspor, perlu visa, perlu tiket yang harus ditebus dengan berbulan-bulan gaji saya. Namun di bawah semua kekhawatiran beliau, ada sebuah ketakutan dasar yang sudah terendus, masalah komunikasi. Seperti juga pasangan LDR, para orang tua memiliki obsesi tentang menjaga komunikasi dengan anaknya. Dan ketika anaknya tidak bisa dihubungi, jangan kaget ketika salah satu teman berkata, “Eh, tadi nyokap lo sms gue tuh, nyariin lo kayaknya.”

Maka untuk menanggulangi hal itu salah satu hal yang saya persiapkan adalah jaminan komunikasi dengan rumah, mengetahui sim card yang mungkin tidak akan berfungsi saat transit atau landing, tablet sudah setia menemani untuk sekedar kirim email berongkoskan wifi . Mengajari dan memasangkan skype di rumah  sebelum berangkat untuk memastikan paling tidak ibu saya bisa mengomel dan menyuruh saya mencari salon agar tampilan saya memasuki standart decent-nya. Dan segera setelah saya settle, mencari jalur komunikasi termurah agar kabar sehari-hari bisa lanar terkirim.

Karena Canberra bukan Jogja, maka segala ekstra effort untuk membuat koneksi menjadi dekat pun harus dicari. Mungkin itu kenapa saya tidur cukup nyenyak semalam sebelum terbang ke Australia.

Salam,

Sasa

Masih bergelut dengan winter Canberra.

“Jika menghirup udara bersih dan sehat itu hak kita, maka merusak paru-paru itu hak mereka”

Semoga kalimat di atas tidak mengesankan saya mendukung orang-orang merokok. Namun soal rokok dan asap rokok saya akan menyatut lagu Borju-nya Neo. “Gue sih asik aje selama die gak nyenggol gue, watta!!” Ok, minus kata watta, walaupun sebenarnya itu yang saya ingin lakukan sembari melakukan aksi violent kepada perokok yang mengganggu hak saya menghirup udara bersih.

Dulu saya berpikir, kenapa tidak tutup saja semua pabrik rokok? Selesai masalah. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi ide itu terlalu naif. Ribuan orang bergantung pada industri ini dari buruh hingga orang-orang berdasi. Jika pun suatu saat nanti industri rokok akan ditiadakan harus ada peralihan lapangan kerja yang jelas juga peralihan fungsi lahan dan bahan produksi rokok. Namun saya juga tidak pandai soal itu, jadi pastinya saya harus belajar lebih banyak apabila ingin bicara perihal tersebut.

Yang saya cukup ketahui dengan baik adalah setiap orang punya hak menentukan hidupnya sendiri, termasuk perihal kesehatannya sendiri. Apabila seseorang ingin merokok, ya dipersilahkan saja. Tentunya, asal ia tidak membuat orang lain menjadi perokok pasif. Misalnya merokok di ruangan tertutup yang asap rokoknya semua dikonsumsi sendiri. Merokok di sebuah helm khusus yang asapnya dihirup langsung oleh yang merokok. Kalau bisa begitu ya silahkan saja merokok sepuasnya.

Sementara itu orang-orang yang tidak merokok seharusnya juga punya hak, hak hidup sehat, hak bernafas selega mungkin. Untuk saya yang tidak merokok, menghirup asap rokok sama saja rasanya dengan menghirup asap hitam dari knalpot angkutan umum. Sama-sama tidak enak. Sama-sama membuat asma saya kumat. Sayangnya tidak seperti pengendara begajulan yang mungkin masih punya hati membiayai korban yang ia tabrak, perokok mana mau tau dengan orang-orang yang dibuatnya sakit. Kasian ya saya dan rekan-rekan lain yang tidak merokok. 

Maka untuk teman-teman yang masih merokok, silahkan bela hak kalian, dan saya akan berdoa kalian menjadi orang-orang yang mempunyai hati lebih besar untuk menghormati hak orang lain 🙂

Salam,

Sasa

Sering Jadi Perokok Pasif

Baiknya Rasa Bersalah

Ini bukan posting tentang hari bumi, tapi tentang hari-hari yang harusnya kita habiskan untuk menjaga bumi

 

Ada rasa bersalah teramat sangat ketika saya menonton “Dr. Seuss: The Lorax”. Film itu secara komedik bercerita tentang sebuah dunia dimana semua Pohon Truffula sudah tumbang karena dibuat menjadi berbagai produk bernama Kneed. Padahal tadinya Once-ler sudah berjanji pada The Lorax (semacam jin, penjaga hutan) bahwa ia hanya akan mengambil dedaunannya saja, namun atas dasar efisiensi maka Once-ler memilih untuk menebas sepohon-pohonnya. Tanpa Once-ler sadari, keserakahannya menghilangkan semua Pohon Truffula dan bisa ditebak keseimbangan lingkungan pun terganggu, semua hewan pergi dan udara menjadi kotor. Untuk kelanjutan ceritanya silahkan disimak sendiri dengan menonton filmnya 🙂

Kembali ke rasa bersalah saya, siapa yang tidak akan merinding menonton film sejenis The Lorax ataupun Wall-E lalu membayangkan dunia yang rusak oleh makhluk paling berakal di dunia, manusia. Namun, setiap telinga pasti sudah jengah mendengar kata “Save The Earth” dan komentar sinis mencoba menjatuhkan semua pihak yang ingin memeluk erat planet kita satu-satunya. Banyak orang yang akhirnya berkata “Ah sudahlah, toh semua orang berlaku sama. Bukan saya sendiri kan yang memakai plastik, membuang-buang air, memakai listrik semaunya, dan lain-lain.”

Maka jika kita kembali pada rasa bersalah saya, saya adalah orang yang merasa bersalah karena biasa berkata “Toh semua orang…” Saya adalah orang yang mencari pembenaran dengan menggeneralisir perilaku yang harusnya tidak menjadi contoh baik. Akan tetapi, siapa yang mampu untuk menyetop semua kenyamanan dunia? Mudah dan murahnya plastik, dinginnya AC, dan ringkasnya membuang sampah ke bawah kaki kita? Belum lagi kebingunagn dengan pendapat beberapa pihak skeptis yang memandang kecil kepuhanan spesies-spesies yang dianggap tidak penting. Siapa peduli dengan harimau mati? Siapa mau tahu mengenai orang utan ataupun gajah yang kehilangan rumah, “Toh tidak ada hubungannya dengan saya…”

Inilah yang membuat saya merasa bersalah dan luar biasa tertampar saat Once-ler di film the Lorax menyanyikan lagu “How Bad Can I Be?”, kala itu ia dimabukkan oleh keuntungan perusahaannya dan tumbangnya pohon-pohon Truffula ia pikir adalah hal yang memang harus terjadi.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Entah. Beberapa menggalang gerakan anti plastik dan gerakan hidup dengan sehamat mungkin listrik. Untuk saya, yang saya lakukan adalah menggalakan rasa bersalah, karena dengan merasa bersalah maka saya mendapatkan dorongan untuk memperbaiki kesalahan itu menjadi sesuatu yang benar. Bisa dengan mengikuti gerakan-gerakan di atas maupun mencari cara saya sendiri.

 

Salam,

 

Sasa

The Lorax new fan